LANGSA – Seorang perempuan pencari tiram, Nurhafiah (50), ia merupakan satu di antara pencari tiram asal dusun Teulaga Tujuh, Gampong Kuala Langsa, Kec. Langsa Barat. Mencari tiram menjadi pekerjaan rutin bagi para wanita di kawasan pesisir ini.
Nurhafiah telah melakukan profesi tersebut selama 20 tahun lebih, ibu empat anak ini harus bekerja keras setelah ditinggal oleh suaminya karena (meninggal dunia). Namun, baginya cara itulah yang dianggap paling tepat untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
Saat dijumpai oleh portalsatu.com, Nurhafiah bersama beberapa temannya sedang membersih dan mengupas tiram .
“Supaya tiram ini mudah dikupas maka terlebih dulu harus dibakar atau dipanaskan sekitar lima menit kemudian dilepas dari cangkangnya setelah itu baru dijual,”katanya, Kamis 7 Januari 2016.
Menurut dia, masyarakat banyak yang suka tiram sebagai menu masakan untuk hidangan mereka karena selain enak baik untuk dikonsumsi. Tetapi, sekarang susah dicarinya sebab sudah langka didapatkan. Memang setiap sore selalu ada yang datang ketempat kami ini untuk membeli.
Namun menurut Nurhafiah, usaha tersebut bukan mudah dilakoninya selama 20 tahun karena hampir setiap hari pencari tiram di Kuala Langsa harus berangkat dari rumah setelah subuh ke daerah lain yang jauh dari kampungnya dengan jarak tempuh satu jam mendayung sampan ke lokasi, bermodal membawa peralatan seadanya sarung tangan dan pisau.
“Biasanya tiram menempel di batang kayu dan batu-batu, baik di sungai maupun di pantai-pantai, jadi harus digunakan pisau untuk mencongkel tiram setelah diangkat dari dasar, beginilah keadaan kami sehari-hari,” ujarnya.
Hal senada disamaikan Laila (40), untuk membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga ia harus bekerja mencari tiram bersama kaum perempuan lain karena tidak ada pekerjaan yang dapat ia lakukan untuk menghasilkan uang.
“Usaha tersebut tidak menghasil uang banyak hanya pas-pasan saja, setiap hari cuma mendapatkan tiram tiga kilo sedangkan harga kami jual satu kilo sampai Rp. 18.000 kadang Rp. 20.000 bagi yang membeli ke tempat,” kata Laila.
Lon nyo nyak mita tirom pertama harus sewa jalo karena hana ata dro lom, sewa jalo siploh ribe sedangkan tirom hanya ta teume 3 kilo, aci neu bayangkan padup peng sagai keu lon, tapi tetap harus lon jak mita tiep uro (Saya ini bila mencari tiram pertama harus sewa sampan karena saya belum punya sampan sendiri, sewa sampan sepuluh ribu sedangkan tiram hanya kami dapat 3 kilo, coba bayangkan berapa sisa uang untuk saya. Tapi tetap harus saya cari setiap hari), katanya.
Keluh kesah yang dirasakan Laila membuatnya tetap tegar dan semangat walau anak pertamanya tidak dapat melanjut kuliah karena faktor ekonomi hanya mampu mengantar anak-anaknya selesai di Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, dia sangat berharap pemerintah dapat membantu keluarganya walau hanya sebuah sampan untuk kebutuhannya mencari tiram.
“Sudah beberapa kali nama dimasukkan untuk mendapat bantuan namun sampai hari ini belum kunjung diberikan, kami hanya mendengar saja bantuan setiap tahun tapi kenyataan mana, pemerintah tidak perlu memberi uang, cukup sampan supaya kami kaum perempuan bisa membantu suami dan keluarga, “katanya.[](tyb)



