Pengajian rutin Tastafi Pusat yang digelar Rabu malam di Samalanga, 29 Maret 2017 berlangsung sukses meskipun listrik padam dan hujan lebat. Para jamaah datang dari berbagai kabupaten seperti Aceh Utara, Pidie dan lainnya.
“Walaupun tanpa lampu dan hujan deras namun Al-Mukarram Abu MUDI tetap bersemangat dalam pengajian rutin setiap hari Rabu,” ujar salah satu jamaah Teungku Muksalmina H. Sofyan kepada penulis.
Pantauan penulis, Al-Mukarram Abu Mudi dalam pengajiannya yang mengupas isi Kitab Tuhfah menjelaskan tentang metode pelaksanaan salat Istisqa atau salat minta hujan.
Kepada imam disunnahkan membaca ayat yang dianjurkan, begitu juga dengan khatib yang disunnahkan melakukan tankis dan tahwil.
“Pelaksana tankis dan tahwil sebagai proses pemalingan kain rida' dengan tujuan untuk bersempena berubahnya suasana kemarau menjadi hujan yang berkah dan rahmat,” ujar Abu MUDI dalam pengajian tersebut.
Pelaksanaan tahwil oleh khatib saat khutbahnya ini sebagai sunah Nabi Muhammad Saw. Berbeda dengan tankis yang masih terjadi khilaf pendapat di kalangan ulama.
Tahwil itu sunah Rasulullah tapi mengenai tankis, ulama berbeda pendapat,” lanjut ulama Kharismatik itu.
Abu MUDI dalam pengajian tersebut juga menyinggung karamah para waliyullah dan ulama pascawafat lebih tinggi derajatnya dibandingkan saat masih hidup.[]



