BANDA ACEH – Pengamat politik dan hukum di Aceh Erlanda Juliansyah Putra menyayangkan kualitas hasil debat kandidat gubernur dan wakil gubernur Aceh, Kamis malam. Para kandidat dinlai kurang memaksimalkan waktu yang ada.

Erlanda menyebut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh tidak memaksimalkan waktu dengan baik dalam debat publik itu. Padahal dengan terbatasnya waktu seharusnya pasangan calon bisa menjawab secara singkat dan tepat langsung kepada poin pentingnya saja.

Misalnya, kata Erlanda, persoalan jaminan keamanan, pemberantasan narkoba, dan penanggulangan bencana yang pertanyaannya dipersiapkan para panelis dan dibacakan moderator. “Hanya sebagian calon saja yang mampu memaksimalkan jawaban ini, selebihnya tidak begitu tajam dan lugas dalam menjawabnya,” ujar Erlanda melalui pernyataan diterima portalsatu.com, Jumat, 23 Desember 2016.

“Begitu juga saat sesi tanya jawab antarkandidat yang dimanfaatkan para pasangan calon untuk menyerang personal kandidat ketimbang visi misinya,” kata dia lagi.

Padahal, Erlanda melanjutkan, alangkah lebih baik apabila yang ditanya adalah terkait penjabaran visi misi dan program kerja. “Walaupun ada juga yang secara nyata mengarah ke pertanyaan itu, tapi jawabanya masih belum begitu baik,” ujarnya.

Namun, kata Erlanda, secara keseluruhan debat semalam sudah cukup baik, hanya masalah teknis menjawab saja yang harus dimaksimalkan ke depan. “Mungkin paslon bisa memaksimalkannya pada debat kedua nanti di bulan Januari. Karena semalam baru yang pertama, mungkin paslon masih agak grogi dalam menjawabnya, ke depan pasti akan berbeda,” katanya.

Erlanda yang hadir pada acara debat itu sangat mengapresiasi para timses. “Suasananya  sangat bersahabat,  tertib dan damai. Ini yang harus dipertahankan oleh timses, karena memang sesuai dengan slogan penyelenggara pilkada bahwa 'pilihan boleh beda, geutanyoe meusyedara'. Itu wajib dipertahankan,” ujarnya.[](rel)