BANDA ACEH – Satgas Covid-19 Desa dan tokoh masyarakat harus mendukung proses tracing (pelacakan) terhadap warga yang kontak erat dengan penderita Coronavirus Disease 2019, selain terus berupaya mengampanyekan pentingnya vaksinasi dan disiplin protokol kesehatan kepada masyarakat. Pasalnya, penderita baru ditemukan hampir di semua kabupaten/kota di Aceh meski distribusinya tidak merata.
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG), di Banda Aceh, 20 Agustus 2021, merincikan penderita baru mencapai 459 orang tersebar di Banda Aceh 123 orang, Aceh Besar 46 orang, Bireuen 40 orang, Pidie 34 orang, Aceh Tamiang 25 orang, Pidie Jaya 22 orang, Aceh Selatan 21 orang, Aceh Tengah 20, warga Aceh Utara dan Lhokseumawe sama-sama 17 orang. Warga Nagan Raya 16 orang, Aceh Barat 15 orang, Langsa 12 orang, Aceh Timur 11 orang, Aceh Singkil 10 orang, Aceh Jaya sembilan orang, Bener Meriah dan Sabang sama-sama tujuh orang. Warga Simeulue empat orang, Aceh Tenggara dua orang, dan satu lagi warga Subulussalam.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian semua pihak, karena setiap satu kasus baru Covid-19 terdapat sejumlah kontak erat yang mesti ditelusuri (tracing) oleh petugas kesehatan. Semakin cepat mereka ditemukan makin pendek rantai penularan virus corona dalam masyarakat.
Geuchik (kepala desa) dan tokoh masyarakat seyogyanya membangun kesadaran warga yang kontak erat untuk melaporkan diri kepada petugas kesehatan. Kesadaran melapor tersebut penting untuk melindungi keluarganya dan warga sedesa.
“Jangan gara-gara satu-dua orang yang terinfeksi tapi bersembunyi, warga segampong (desa) akan menanggung risiko tertular virus corona,” ujar SAG.
Armia, warga Aceh Utara sepakat dengan Jubir Satgas Covid-19 Aceh itu. Dia berharap Satgas di tingkat desa bersama tokoh setempat memberikan dukungan maksimal terhadap proses tracing yang dilakukan petugas kesehatan terhadap kontak erat penderita corona.
“Karena upaya memutus mata rantai penyebaran Covid memang harus dimulai dari desa, atau semua pihak baik tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai provinsi berjalan beriringan sebagaimana mestinya,” kata Armia.
Ramli, warga Aceh Utara lainnya, juga berharap pemerintah desa lebih maksimal mengampanyekan kepada masyarakat pentingnya vaksinasi. Kepala desa dan tokoh masyarakat setempat tidak boleh pula mengendurkan semangatnya untuk mengajak masyarakat membiasakan 5M dalam kehidupan sehari-hari.
5M tersebut Memakai masker, dan Menjaga jarak, sering Mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, Menghindari kerumunan, dan Mengurangi mobilitas atau bepergian, kecuali untuk keperluan sangat mendesak.
Masker harus dipakai dengan baik dan benar yakni menutupi hidung dan mulut. Masker bukan untuk disangkut pada dagu atau leher. Bukan pula sekadar menutupi mulut dengan masker.
“Masih banyak warga di desa yang belum disiplin Prokes, belum ikut vaksinasi, dan belum menyadari pentingnya penelusuran kontak erat penderita Covid. Perlu kerja sama semua pihak, kepala desa, tokoh, dan elemen lainnya untuk mencegah penyebaran Covid agar jumlah kasus baru tidak semakin membludak. Kepala desa dan tokoh di desa tentu lebih didengar nasihatnya oleh masyarakat,” ujar Ramli.[](Irm)





