Karya: Taufik Sentana*
Ini mungkin bukan percakapan penting.
tapi warung kopi adalah tempat yang paling jujur dalam realitas kita. Seakan tanpa batasan, waktu dan usia, tergantung kondisi. Tergantung niat kita
ingin berbuat apa.
Di warung kopi, kita bisa membahas apa saja. Kebaikan dan keburukan seperti asap dan kabut.
Ingin tahu keadaan satu kaum, datanglah ke warung warung dan simak yang mereka bincangkan. Atau bandingkan dengan tempat ibadahnya.
Belakangan kita mulai khawatir dengan maraknya judi online berbasis chip dan game lain yang tak konstruktif.
Belum tampak pemilik warung yang mewanti peringatan. Pemerintah pun demikian juga.
Pemilik warung berucap:
Bagaimana kita menghilangkan, kalo bukan dari akarnya. Razia di warung warung hanya memutus ujung ranting.
Sehingga pemahaman individu, masyarakat umum dan pemerintah mesti sejalan. []
*Peminat literasi sosial.



