LHOKSUKON Para petualang yang melakukan adventure ke kawasan Air Terjun Tujuh Bidadari di pedalaman Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, selalu diberi peringatan untuk tetap menjaga keselamatan. Salah satunya menjauhi sungai saat awan hitam mulai menyelimuti langit.
Hal itu disampaikan Ibnu Hasyem alias Lambusoe, Mukim Teungku di Manyang, Kecamatan Geureudong Pase, dihubungi portalsatu.com, Rabu, 29 Maret 2017. Ia menyebut belakangan ini kawasan pedalaman tersebut menjadi salah satu lokasi favorit anggota komunitas trail.
Lambusoe mengaku sempat beberapa kali bertemu dengan komunitas motor trail di kawasan Air Terjun Tujuh Bidadari. Termasuk di antaranya, anggota Polres Aceh Utara yang tergabung dalam komunitas trail Lhoksukon.
“Saat bertemu dengan mereka, saya selalu ingatkan. Jika terlihat mendung di kawasan pegunungan, maka segeralah menjauh dari sungai. Karena air bah akan datang dalam waktu kurang dari 30 menit. Air bah itu datangnya seperti air dituang dari gayung, sangat deras, bukan mengalir pelan, ujar Lambusoe.
Mantan kombatan GAM ini melanjutkan, jika dihempas air bah, maka kecil kemungkinan untuk selamat meski pun tergolong mahir berenang. Apalagi, kata Lambusoe, arus air bah di Geureudong Pase sangat deras, bahkan lebih deras dari arus arung jeram di kawasan lain.
Jika dihempas air bah, sepandai apapun berenang, maka kecil kemungkinan untuk selamat. Ditambah lagi sungai juga dipenuhi batu-batu besar. Jika kondisi normal, ketinggian air hanya selutut orang dewasa. Tapi jika air bah datang ketinggian air bisa lebih 2 meter, ujar mantan anggota DPRK Aceh Utara ini.
Lambusoe menjelaskan, jalan lintas Krueng Suak masih berupa tanah merah yang hanya dapat dilintasi motor trail dan jonder. Jika berjalan kaki dari Krueng Suak ke Air Terjun Tujuh Bidadari memakan waktu dua jam, sedangkan jika mengendarai trail atau jonder hanya sekitar 30 menit, ucapnya.
Terkait Buket (Bukit) Apolo di Geureudong Pase, Lambusoe menyebut nama itu sudah melekat sejak zaman penjajahan Belanda. Dulu nenek-nenek kita di sini sering dibawa Belanda. Saat melitasi bukit itu, Belanda sempat menanyakan apa nama bukit itu. Karena si nenek sedang kelelahan, ia menjawab, 'epolong'. Penjajah Belanda mengira 'apolo'. Sejak saat itu dinamakanlah Buket Apolo, kata Lambusoe.
Menurut Lambusoe, kawasan Buket Apolo tidak didiami masyarakat. Namun, jalur itu termasuk jalur aktif yang selalu dilintasi pekerja kebun dan warga yang memiliki ladang di sekitar lokasi.
Buket Apolo itu merupakan jalan yang berjarak ke sungai sekitar 500 hingga 700 meter. Tidak ada warga yang menetap di lokasi itu, tapi jalur tersebut sering lalu lalang pekerja kebun, dan itu jalur aktif, pungkas Lambusoe.[]




