BANDA ACEH Sebait sejarah memang sudah sepatunya didokumentasikan dan dijaga sebagaimana mestinya. Ibarat warisan, sebuah cerita sejarah haruslah diketahui oleh anak cucu sebagai pewaris generasi. Namun, sepertinya perhatian kita terhadap dokumentasi sejarah masih sangat kurang. Hal tersebut terlihat dari sedikitnya bukti dan alur sejarah yang terdokumentasi dengan rapi. Termasuk sejarah panjang peperangan dan perjuangan Aceh.
Demikian disampaikan Juru Bicara Partai Aceh, Suadi Sulaiman, kepada portalsatu.com akhir Maret 2016 lalu. Pria yang mengaku mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini menyesalkan terlalu banyaknya cerita perjuangan yang tak terdokumentasi dengan rapi. Fragmen-fragmen sejarah tersebut bahkan terlalu banyak sehingga akan sangat rugi jika hilang ditelan masa.
Perang dan perjuangan bangsa Aceh ini sangat panjang, setelah Belanda kemudian dilanjutkan dengan perang terhadap Jepang kemudian lagi kita juga sempat dikecohkan oleh DI/TII sampai pada 4 Desember 1976 Wali Nanggro Tgk Chik di Tiro Hasan bin Muhammad mendeklarasikan Aceh Merdeka di puncak Gunong Halimon, kata Adi Laweung, sapaan akrab Suadi Sulaiman.
Walaupun ada satu dua buku yang menceritakan tentang Aceh dan perang Aceh, tetapi buku tersebut hanyalah serpihan dari ribuan cerita sejarah tentang Aceh. Dia mengatakan untuk menceritakan sejarah perang Aceh saja masih masih sangat sedikit buku yang dapat dijumpai.
Terlalu banyak kisah perjuangan yang tidak terdokumentasikan dengan rapi. Dan memang itu menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk menyelesaikannya, kata Adi.
Dihubungi terpisah, pakar sejarah Universitas Syiah Kuala, Mawardi Umar, kepada portalsatu.com, Jumat, 1 April 2016, mengatakan hal senada. Menurut Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah, FKIP Unsyiah ini semua bukti sejarah harus dilestarikan termasuk semua peninggalan dan dokumen perang.
Memang ada dua aspek yang akan muncul jika Museum Perang Aceh dibuat dan itu ada positif dan ada negatifnya. Tentu saja yang positif lebih banyak, kata Mawardi.
Ia mengatakan seluruh dokumen sejarah harus dilestarikan sebagai bentuk warisan yang harus diketahui oleh generasi selanjutnya. Namun, Mawardi khawatir Museum Perang akan membangun citra bahwa masyarakat Aceh suka berperang.
Citra suka perang bisa saja muncul, namun hal positif akan lebih banyak didapat jika ada Museum Perang di Aceh. Salah satunya adalah menanamkan nilai patriotisme dalam diri generasi muda, kata Mawardi lagi.
Sebelumnya memang sudah ada beberapa kumpulan fragmen-fragmen sejarah terkait perang dan konflik bersenjata di Aceh. Dia menyebutkan seperti di kantor Kesbangpolinmas Aceh. di sana memang terdapat beberapa peninggalan sejarah terkait perang. Namun, peninggalan tersebut tidaklah lengkap dan hanya sebatas hal umum saja.
Menurut Mawardi, semua situs sejarah haruslah dikelola sebaik mungkin karena hal tersebut merupakan karakteristik bangsa yang mencerminkan siapa dirinya. Ia berpendapat, jika hal tersebut tidak dilestarikan maka akan tenggelam seiring perkembangan zaman.
Semua peninggalan dan bukti sejarah tentang perang bisa saja dimusnahkan jika tidak dijaga dengan baik, kata Mawardi.[](bna)




