Dalam bulan Syakban yang sedang kita lalui saat ini, kalau dihitung bulan ini merupakan bulan kedelapan di dalam kalender Hijriyah. Untaian selamat tinggal telah kita lambaikan dalam untaian berbagai macam ibadah di bulan Rajab. Kita berharap segala ibadah Rajab itu bernilai di sisi Allah SWT.
Tidak sedikit kejadian penting yang sempat menghiasi bulan Syakban yang mulia ini. Kita secara bersama telah mengetahui bahwa bulan Syakban yang mana di dalam bulan ini terdapat banyak kelebihan dan bermacam hikmah terhadap mereka yang terus menggalinya. Secara etimologi Syakban itu sendiri diambil dari kata Syabun yang memiliki arti kelompok atau golongan. Mengapa dinamakan dengan Syakban? Hal ini sangat erat dengan fenomena penamaan (wajah tasmiah) nya ini di mana pada bulan ini, masyarakat jahiliyah berpencar mencari air.
Salah satu kejadian penting itu, dalam bulan Syakban Allah SWT berkenan untuk mengubah arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsha ke arah Masjidil Haram, yang sebelumnya tatkala umat Islam berada di Kota Madinah, jika melakukan salat kiblatnya mengarah ke arah Baitul Maqdis. Apa yang mereka lakukan ini menjadi bahan cemoan orang-orang Yahudi di Kota Madinah.
Dalam anggapan mereka mengatakan, katanya Muhammad membawa risalah dan agama baru yang lengkap. Anehnya ternyata kiblat mereka masih menggunakan kiblatnya orang Yahudi, yaitu Baitul Maqdis. Efek tersebut, bagi sebagian umat Islam yang baru masuk Islam dan sangat tipis imannya, sudah lebih dari cukup untuk memurtadkan mereka kembali. Sehingga kondisi ini menjadi pemikiran yang sangat mendalam terhadap Rasulullah SAW.
Menyikapi fenomena ini, baginda Nabi selalu berdoa dan sering melihat ke atas berharap turunnya firman Allah, untuk menjawab solusi masalah ini. Akhirnya Kemudian tepatnya pada 15 Syakban, Allah berkenan memindah kiblat umat Islam menuju Masjidil Haram. Pada bulan Syakban, segala amal manusia dalam jangka waktu satu tahun dilaporkan kehadirat Allah SWT.
Sebagaimana hadits yang disampaikan sahabat Usamah bib Zaid ra. ; Saya pernah berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak melihat Anda berpuasa penuh pada bulan lain, seperti puasa Anda di bulan Syakban ini? Beliau menjawab: Pada bulan ini adalah sebuah bulan yang banyak dilalaikan oleh umat manusia, dan dia berada diantara Rajab dan Ramadhan yang pada bulan tersebut seluruh amal manusia dilaporkan ke hadirat Allah, maka aku senang tatkala amal ibadahku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa. (HR. An-Nasaiy).


