Oleh Taufik Sentana*
(Dinukil dari kajian online Ustaz Zulkifli. M.Ali, 2018, diakses 14 Januari 2019).
Semua kita pasti menyadari dan meyakini bahwa keadaan kita sekarang akan sirna. Kehidupan akan diganti dengan kehidupan yang lain, yang kekal abadi. Hanya saja, kita sebagai manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Hingga sampai pada putusan apakah kita termasuk dalam kelompok yang dirahmati Allah atau tidak.
Hakikatnya, saat Nabi Muhammad SAW lahir, itu sudah menandakan bahwa zaman kita sudah sampai pada ujung usianya. Secara kualitatif pun, usia kita, umatnya, hanya dalam kisaran 60 hingga 70 tahun. Terjadi penyusutan usia dari umat sebelumnya.
Ketika kita dapat mengambil iktibar dari hadis-hadis fitan (fitnah/ujian zaman) yang dirangkum ulama kita, maka kita akan semakin menyadari bahwa semua tanda-tanda menuju “kehancuran zaman” telah sampai pada fase yang krusial (akhir fase keempat, menurut Ustaz Zulkifli). Artinya kita hanya tinggal menyaksikan segala bentuk kekacauan, baik kecil ataupun besar. Dari segi bencana alam, goncangan pilitik, kisruh ekonomi, kemelut di daerah vital umat Islam: Syiria, Palestina, Yaman, juga Timur Tengah. Kesemuanya mengindikasikan bahwa apa yang dinubuwwatkan oleh Baginda kita Muhammad SAW sudah diambang mata.
Untuk itu ada beberapa pesan “kecil” dari Ust. Zulkifli tentang menjalali zaman kita sekarang ini.
Pertama, fitnah, kesusahan dan goncangan sosial dalam kondisi keumatan Islam merupakan tempaan ujian dari Allah sesuai kapasitas orang-orang yang beriman kepada-Nya. Kita hanya bisa berupaya (berishlah dan berikhtiar) sebatas kemampuan kita pula.
Kedua, mengerjakan, yang Allah wajibkan dan menyukai hal-hal yang disunahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sembari meninggalkan yang diharamkan oleh Allah. Bahkan, mulailah meninggalkan maksiat (yang dianggap kecil), berupa keasyikan dalam bermain HP, hiburan bola, sinetron televisi dan sejenisnya.
Ketiga, dengan pekerjaan dan penghasilan kita, jadikan itu sebagai ladang amal kita untuk mencetak sebanyak mungkin kebaikan. Baik dengan perbaikan diri, bersedekah, infak dan mengikuti majelis Ilmu. Insyaa Allah, kita akan di dalam bimbingan-Nya, dan bila ada keburukan atau musibah, bisa saja itu merupakan pintu syahid.
Keempat, setelah memperbanyak amal dan perbaikan diri, maka selalulah berdoa/meminta keselamatan khusus dari Allah dari petaka dan huru hara di akhir zaman agar kita dan keluarga beserta kaum mukmin lainnya terhindar dari segala keburukan. Bila ingin Allah mengabulkan permintaan kita di saat sulit, maka cepatlah ikuti perintah Allah dan ingatlah akan-Nya pada saat lapang.
Maka pertolongan Allah akan selalu dekat.[]
*Taufik Sentana, seorang hamba Allah, merasa diri sangat lemah dan faqir akan-Nya.




