Oleh: Taufik Sentana*
Pada sesi kedua, disebutkan bahwa pemerintahan Aceh berpusat di Pase, Paloh Dayah, Lhokseumawe. Setiap wilayahnya memiliki ciri khas sendiri yang dikelola dengan rapi. Para remaja dan anak muda sibuk belajar, mencoba hal hal kreatif.
Berikut Petikan lanjutannya…
7. Ada sebutan diraja yang merefleksikan pikiran tertinggi dari perubahan yang berlangsung di Aceh. Ia agaknya setingkat wali* yang bersahaja, tak banyak dikenal khalayak, tanpa pengawal, sesekali bisa muncul lewat layar semacam hologram untuk keprluan tertentu. Kabarnya ia menetap di taman peradaban, di belakang air mancur, di dalam gua.
8. Kini, Lhokseumawe yang kita kenal akan menjadi kota lama, bandar zaman. Sedang Islamic Center menjadi museum besar yang merangkum semua perjalanan masyarakat setempat. Alat transportasi berupa kuda dan gajah, tampak di berapa wilayah Kunjungan wisata, berapa jam sekali akan ada Tim pembersih yang mengolah kotoran bintang tersebut.
9. Paloh Dayah memiliki benteng besar delia's 502 hektar, sebagai simbol bandar budaya, ala Yaman. Disebut dengan hadralmaut baharu, diresmikan langsung oleh keturunan raja Tarim, Yaman. Berdiri pula gedung pertunjukan, dan sebuah menara rincong kembar yang tingginya melebihi menara di Dubai. Di laut sekitarnya, tampak kendaraan laut buatan Bandar Aceh, melintasi timur dan Barat Aceh.
10. Di Nagan Raya, selain memiliki gedung pertunjukan selayaknya daerah lain, ia juga sebagai pertahanan pangan Aceh. Disini banyak kebun beragam, para mahasiswa belajar dan berlatih ilmu di daerah ini. Ada pula Seuneulhop Raya, bendungan buatan yang besar mengelilingi Danau Laut Tawar. Dalam membangun Aceh, para hartawan, selain zakat, diminta sepuluh persen sumbangsih, dimanapun ia bekerja. Dalam keseharian, disiplin masyarakat dan nilai hukum amat berlaku, tak terkabarkan Berita Berita kriminal.
11. Dari sektor hasil alam, baik kebun atau laut, semuanya diolah di Pase, secara khusus. Hasil jadinya barulah dikirim ke liar negeri, Tiongkok, Turki, Jepang dan lainnyan. Masyarakat juga sudah meninggalkan kebiasaan merokok dan minum kopi. warga luar yang merokok akan berhati hati Karena ada denda. Sepanjang jalan akan banyak dijumpai kedai perasan buah/jus segar. Toko Toko buku juga banyak dijumpai, semua telah bersetekad untuk memajukan Aceh. Bahkan, wilayah Medan juga mulai merilik kekhasan Aceh, agar mereka bisa juga mencapai kemajuan.
Demikian berapa Petikan pokok tentang Aceh di Tahun 2025. Gambaran detilnya bisa kita hubungi no pengarangnya Thayeb Loh Angen, untuk pesanan dan konfirmasi, tiada yang kita inginkan selain harapan yang lebih baik yang bersanding dengan rahmat Allah.[]
*Peminat sosial budaya.
Nomor kontak pengarang:
0852 7613 3071.




