Karya: Taufik Sentana*
Pada mula aku kenal pintu air
yang biasa ada di tambak tambak
dekat laut atau perairan irigasi.
Lalu kutahu pintu ilmu,
pintu sukses, pintu filsafat
sampai ke pintu makrifat.
Selalu terus kurekam gejala
dan makna, ramai menggapai
pintu bahagia:
Pintu itu terbuka lebar
hingga merangsang semua konsep, bahkan yang ateispun
ingin masuk ke pintu itu.
Sebagian lain memilih bahagia
di fana dunia dan waktulah yang membuat binasa, kata mereka.
Hingga tiba juga
waktu setiap mata
terbelalak-tajam,
pintu bahagia yang dikira,
ternyata bayangan belaka.[]
*Penyuka prosa eksistensial.



