BANDA ACEH – Prof. Yety Rochwulaningsih, M.Si., Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) mengemukakan, kendala-kendala yang menyebabkan ekonomi petani garam tidak meningkat karena beberapa faktor, mulai dari tidak sinerginya pihak-pihak terkait sampai pengelolaan lahan tambak garam yang ada.

“Kendala utama itu sebenarnya di ego sektoral. Pihak-pihak yang semestinya bersinergi ini sering jalan sendiri-sendiri,” ungkap Prof. Yety setelah seminar kemaritiman di Universitas Serambi Mekkah, Kamis, 24 Agustus 2017 kemarin.

Berdasarkan hasil riset Tipologi Usaha Garam Rakyat di Aceh dan Usaha Pengembangannya yang pernah dilakukan, Guru Besar Undip tersebut menilai, selama ini program hanya di tingkat retorika, tapi di implementasinya tetap menurun.

“Masyarakat sebagai pelaku utama sering diposisikan hanya sebagai objek bukan subjek. Ini perlu benar-benar dibangun,” ungkapnya.

Penting sekali semua pihak yang berkaitan tadi memahami karakteristik sektor pergaraman di Aceh ini yang jelas berbeda dari segi klimatologi dan dari sisi teknologi bila dibandingkan dengan daerah lain. Oleh karena itu, ditambahkannya, perlu pemahaman tentang bagaimana kondisi di lapangan.

“Karakteristik yang dijelaskan di sini, tanah Aceh itu basah. Padahal lahan garam itu menuntut kering, itu sudah masalah tersendiri,” jelas Prof. Yety.

“Tetapi itu kan dengan sinergi perguruan tinggi bisa ditemukan teknologi. Di mana yang dalam kondisi basah bisa memproduksi,” jelasnya lagi.

Sehubungan dengan itu, terkait masalah pengelolaan lahan tambak garam di Aceh, Prof. Yety mengatakan bahwa cara yang dilakukan masih terbilang usaha kecil sehingga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saja.

“Kalaulah di daerah lain itu kan terutama di Jawa itu kan luas-luas. Kalau di Aceh kan terpotong-potong, berpetak-petak kecil. Untuk sebuah usaha itu kurang menguntungkan,” katanya.

“Kalau untuk usaha itu kan harus disatukan dalam hamparan yang cukup luas, dikelola bersama-sama, kalau hanya usaha kecil kan hanya untuk kesuksesan yang memenuhi kebutuhan hidup. Tidak pernah berpikir bagaimana membangun ini untuk menjadi sebuah usaha apalagi industri,” ungkapnya lagi.

Sebelumnya, Guru Besar Undip ini menyampaikan, permasalahan dalam pengembangan usaha pembuatan garam di Aceh karena keterbatasan teknologi, harga yang tidak stabil, tidak ada penyimpanan saat panen raya, serta banyaknya lahan tambak yang belum bisa dikembalikan karena hancur saat tsunami.[] (*sar)