LHOKSEUMAWE Presiden Direktur PT Perta Arun Gas (PAG) Teuku Khaidir mengatakan, pihaknya menyuplai gas untuk pembangkit listrik milik PT PLN di Lhokseumawe dan Belawan lebih 100 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Melalui pipa tiap hari kita kirim ke PLN baik di Lhokseumawe maupun di Belawan lebih 100 MMSCFD. Sedangkan yang dikirim dengan truk atau LNG Trucking itu untuk konsumen yang tidak terjangkau oleh pipa, tidak ada fasilitas pipa, kata Teuku Khaidir dihubungi portalsatu.com lewat telpon seluler, Sabtu, 17 Desember 2016, sore.
'Bos' PAG itu menyebut LNG Trucking itu merupakan bisnis yang berbeda atau terpisah dari pipa transmisi gas Arun, Lhokseumawe-Belawan, Sumatera Utara. Yang dikirim dengan truk itu (LNG) sangat kecil, tidak sebanding dengan (gas) yang dikirim melalui pipa. Jadi, ada dua pengiriman, lewat pipa dan truk. Kita juga sudah rencanakan pengiriman LNG melalui kapal jika ada konsumen yang membutuhkan, ujar Khaidir.
Itu sebabnya, kata Khaidir, keliru jika ada pihak yang menilai keberadaan unit regasifikasi LNG dan pipa transmisi gas Arun-Belawan mubazir.
Sebelumnya, dikutip portalsatu.com dari merdeka.com, proyek regasifikasi gas alam cair (LNG) dan pipa transmisi gas Arun-Belawan milik PT Pertamina (Persero) di Sumatera senilai USD 570 juta atau setara Rp7,4 triliun terancam menganggur dan sia-sia. Sebab, anak usaha PT Pertagas Niaga lebih memilih menjual langsung LNG ke industri tanpa melalui kedua infrastruktur tersebut.
“Mubazir sekali kan jadinya. Proyek triliun tersebut ujungnya jadi sia-sia. Pipanisasinya tidak jalan di proyek itu,” ujar anggota DPRD Sumatera Utara Robby Anangga dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (15/12).
“Dengan LNG Trucking, Pertagas mengangkut langsung LNG ke pelanggan tanpa melalui proses regasifikasi dan pengangkutan gas melalui pipa Arun-Belawan. Artinya infrastruktur regasifikasi dan pipa transmisi ini tidak terpakai dan mubazir,” jelasnya. (Baca: Proyek Gas Pertamina di Arun Senilai Rp7,4 Triliun Dinilai Mubazir)[](idg)



