BerandaNewsPuluhan Blogger Aceh Ikut Flash Blogging Kominfo

Puluhan Blogger Aceh Ikut Flash Blogging Kominfo

Populer

BANDA ACEH – Direktur Direktorat Kemitraan Komunikasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedet Suryana Dika, mengingatkan para pengguna media sosial, khususnya para blogger agar tidak sembarangan memproduksi dan menyebarluaskan muatan blog yang berbau hoax.

“Kalau mengikuti perkembangan, teknologi ini berkembangnya sangat cepat sekali. Saya harap para blogger di sini tidak bikin konten yang ngetren disebut hoax. Artinya, daripada kita men-share info yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan, kalau dapat informasi tabayyun dulu, cross check dulu,” kata Dedet, saat membuka kegiatan Flash Blogging bertema “72 Tahun RI, Indonesia Kerja Bersama” yang diselenggarakan Direktorat Kemitraan Komunikasi – Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika di Hotel Permata Hati, Banda Aceh, Selasa, 15 Agustus 2017.

Acara ini diikuti puluhan blogger dari berbagai komunitas di Banda Aceh seperti Gam Inong Blogger, Aceh Blogger Community, Kelas Menulis Barsela, dan lainnya. Panitia menghadirkan narasumber dari redaksi beritagar.id yang menyampaikan topik menulis kreatif.

Lebih lanjut, Dedet mengingatkan, pengakses informasi teknologi agar bijak dalam menggunakan media sosial dan mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan. Apalagi saat ini, kata dia, sudah ada UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Tapi saya yakin yang di sini sudah tidak lagi menyebarluaskan informasi yang negatif, adu domba, menghasut, yang sifatnya hoax. Tapi berikanlah konten yang menyejukkan, menjaga persatuan dan kesatuan, jangan yang provokatif, karena itu kena UU ITE.”

Sementara itu, Kepala Dinas Informasi Aceh yang diwakilkan oleh Kabid Pelayanan Informasi dan Pengelolaan Informasi Abdul Aziz mengatakan, suka tidak suka, mau tidak mau, dewasa ini teknologi datang dengan sendirinya.

“Menurut evaluasi yang kami dapatkan dari komunitas yang ada di seluruh Aceh, teknologi itu tampaknya tidak perlu proses belajar mengajar seperti ilmu lain. Ini dapat dibuktikan anak-anak usia lima tahunan sudah mampu menggunakan perangkat teknologi,” kata Abdul Aziz.[] (*sar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya