Namun yang menariknya, dalam tradisi medagang di dayah dulu di Aceh, dibandingkan dengan keberadaan dayah hari ini jauh sekali sudah berubah. Baik sarana dan prasarana dayah, maupun cara belajarnya. Dari segi sarana dan prasarana, bilik dayah dulu tidak sepermanen sekarang. Tempat wudhuk para santri juga tidak sebagus tempat wudhuk dayah sekarang.
Dulu, di setiap komplek dayah ada dua atau tiga kolam tempat wudhuk, yang airnya kadang sudah kuning kecoklatan. Karena kolam itu sekaligus difungsikan sebagai tempat permadian murid. Bayangkan, dalam satu hari saja berapa jumlah murid menggunakan air kolam itu untuk berudhuk. Di situ mereka basuh tangan, di situ berkumur-kumur, yang bekas kumurannya juga disemburkan ke dalam kolam. Belum lagi mereka mencuci kaki yang terkadang penuh kotoran. Tapi begitulah kondisi dayah-dayah di Aceh dulu.
Sehingga tak heran, kalau murid yang menginap di dayah dulu, soal penyakit kulit seperti kudis dan kurap sudah hal biasa, akibat air kolam tadi. Lumayan, kalau kolam itu dibuat saluran pemasukan dan pembuangan air setiap saat. Namun, kebanyakan kolam tempat wudhuk itu belum tentu sebulan sekali dikuras dan dibersihkan untuk dimasukkan air baru.
Namun demikian, para santri yang medagang di dayah-dayah dulu begitu tekun belajar ilmu agama dengan sarana apa adanya. Bilik tempat tinggal mereka yang terbuat dari tiang bambu dan atap rumbia yang letaknya berjajar dalam komplek dayah, adalah nuasa tradisi yang tidak dipersoalkan, yang penting mereka dapat belajar hingga menguasai kitab Mahli sebagai target akhir dari tingkatan belajar di dayah.
Untuk sampai ke tingkat menguasai kitab Mahli itu, para santri harus lebih dulu menguasai kitab-kitab ilmu lain di bawahnya yang memakan waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya. Termasuk ilmu nah’u sebagai salah satu mata ajar di dayah dulu yang wajib dipelajari oleh setiap muridnya. Jika seorang murid sudah menguasai ilmu nah’u, maka segundul apa pun kitap kuning yang mereka pelajari akan dengan mudah dapat disurahkannya.
Namun, untuk menguasai ilmu nah’u ini bukan gampang. Malah saking beratnya belajar nah’u di dayah-dayah dulu, tak sedikit di antara murid dayah mengalami stres yang berpengaruh pada kejiwaannya. Orang Aceh dulu menyebutkan untuk orang stres akibat belajar ilmu nah’u disebut “pungo nah’u”. Memang ilmu nah’u ini ada hubungannya dengan saraf. Sehingga di sekolah agama di Aceh dulu (Madrasah dan Tsanawiah) ada salah satu mata pelajaran namanya “nahu’ saraf”. Bagi yang sempat belajar mata pelajaran “nahu’ saraf” di sekolah agama dulu, terutama di tahun-tahun 1960-1970-an, mungkin merasakan bagaimana rumitnya belajar nah’u saraf itu.
Dulu memang antara kurikulum dayah dengan kurikulum di sekolah agama di Aceh agak sedikit sinkron. Terutama dalam mata ajar ilmu keagamaan. Bila di sekolah ada mata ajar “muthala’ah” atau “nah’u safar”. Maka si murid yang siang harinya belajar mata pelajaran itu di sekolah, malam harinya dapat memperdalam ilmu itu di dayah tempat belajarnya. Inilah salah satu kelebihan tradisi cara belajar ilmu agama dahulu dengan cara belajar ilmu agama ala TPA dan pesantren-pesantren modern sekarang ini.



