Maka tradisi jak meudagang dalam konteks budaya Aceh, boleh dibilang sebuah kesadaran masyarakat Aceh tempo dulu terhadap pendalaman ilmu agama yang rela menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun. Bahkan puluhan tahun mereka bisa hidup di dayah-dayah dengan tak ada perubahan sosial sedikit pun. Dayah bagi mereka adalah rumahnya, tempat mareka hidup di dunia dan tempat mereka menuntut ilmu akhirat.
Paling setahun sekali mereka pulang ke kampung asalnya. Masyarakat kampung begitu hormat dan memuliakan menyambut kepulangan seseorang sedang menuntut ilmu agama di dayah-dayah. Tak jarang bila seseorang yang sedang jak meudagang (jak beut) di sebuah dayah yang jauh dari kampung halamannya, bila sesekali dia pulang ke kampungnya tak sanggup menerima undangan jamuan makan dari orang kampung sebelum dia kembali ke dayahnya.
Menariknya lagi, pada saat si jak meudagang akan kembali ke dayahnya setelah beberapa waktu tinggal di kampung. Biasanya wagar kampung memberikan oleh-oleh kepada orang yang akan kembali ke dayahnya untuk jak meudagang. Ada yang memberikan beras, telor asin, asam sunti, ikan kering, miyak goreng, dan makanan-makanan kering lainnya sebabagi bekal untuk beberapa waktu bagi si santri yang akan kembali ke dayahnya. Begitu rasa mulia dan penghargaan yang diberikan masyarakat kepada orang jak meudagang di Aceh dulu.[]


