BANDA ACEH – Putra Aceh, Hajarul Akbar Alhafizh S.H.I., M.A., dipercayakan oleh Kementerian Agama Pusat di Jakarta untuk mewakili Republik Indonesia dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional yang diselenggarakan Republik Turki di Istanbul. Keikutsertaan Hajarul Akbar berdasarkan SK yang dikeluarkan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI.

Hajarul Akbar yang merupakan alumnus Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Pagar Air Aceh Besar ini dipercayakan untuk tampil pada cabang Hafizh 30 juz. “Dengan demikian, Hajarul Akbar akan bersaing dengan para Huffazh (penghafal) Alquran peserta MTQ dari berbagai negara Islam lainnya yang akan berpartisipasi dalam even ini. selain Hajarul Akbar, peserta lainnya dari Indonesia yaitu atas nama M. Riqon dari Kalimantan selatan cabang tilawah,” ujar Teuku Zulkhairi, Staf Humas UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga kawan dekat Hajarul Akbar, Kamis, 18 Mei 2017.

Hajarul Akbar yang lahir 29 tahun lalu berasal dari Gampong Lhang, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. Ia kini mengabdi di Aceh sejak setahun lalu setelah sebelumnya sekitar 11 tahun berada di Pulau Jawa mengenyam pendidikan S1 dan S2 sekaligus mengabdi sebagai satu Mudir di Pesantren Darul Qur’an Mulia di Serpong, Provinsi Banten yang memiliki ribuan santri.

Saat ini, setelah pulang ke Aceh, selain mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry sebagai dosen luar biasa. Ia juga sedang merintis pendidikan dayah Tahfizh Alquran di Samahani dengan nama Darul Quran Aceh (DQA). Di DQA ini, Hajarul Akbar mengembangkan metode praktis untuk hafal Alquran. Ia memberikan keteladan full dalam menghafal Alquran.

“Bahkan, untuk menunjukkan keseriusannya dalam membina para santri untuk hafal Alquran, Hajarul Akbar mengatakan siap dites ayat apa saja oleh para calon santrinya, sehingga diharapkan keseriusannya ini bisa menjadi motivasi bagi para santri lain untuk serius dalam menghafal Alquran,” kata Teuku Zulkhairi.

Hajarul Akbar mengenyam pendidikan MIN dan MTsN di Tijue, MA di Sigli, lalu ke Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air. Setelah itu ke Jakarta di Ma’had An-Nuaimy, S1 di STAQ Depok, kemudian melanjutkan program magister ke beberapa kampus. Namun, kata Hajarul Akbar, ia hanya selesai program magisternya di Institute Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta beberapa tahun silam.

“Saya mulai menghafal quran sejak usia MIN dibawah bimbingan orang tua dan kakek saya di rumah. Ketekunan dan kedisplinan orang tua membuat saya lebih mudah dalam menghafal Alquran dan mempelajarinya. Namun, saya mulai intensif menghafal Alquran saat di MUQ Pagar Air dengan syekh dan guru sangat senior seperti Ustaz Sualip Khamsin dan Ustaz Amin Chusaini, serta banyak guru saya lainnya,” ujar Hajarul Akbar mengisahkan pengalamannya menghafal Alquran.

Mengenail MTQ, bagi Hajarul Akbar bukanlah sesuatu yang asing. Tercatat, Hajarul Akbar saat ini hampir seluruh Indonesia telah ia kunjungi berkaitan dengan MTQ, baik sebagai peserta, pelatih, maupun hakim MTQ.

Sebelum malang melintang pada even MTQ nasional dan kemudian internasional, Hajarul Akbar telah mengawal sepak terjangnya sebagai peserta MTQ Provinsi Aceh tahun 2003 di Aceh Singkil, tahun 2005 di Langsa, tahun 2007 di Bireuen, tahun 2009 di Takengon, tahun 2011 di Tamiang,  dan tahun 2013 di Subulussalam.

“Semua even Provinsi Aceh ini saya ikuti bersama Kafilah Kabupaten Pidie. Sementara untuk tingkat nasional alhamdulillah saya sudah tampil tujuh kali dan alhamdulillah dua kali mendapat juara. Sedangkan untuk tingkat internasional saya sudah dua kali mengikuti MTQ, yaitu tahun 2016 lalu di Jordania dan meraih peringkat ketujuh, dan tahun ini InsyaAllah ke Turki dengan harapan mudah-mudah bisa lebih baik lagi,” kata Hajarul Akbar berharap.

Doa dari masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sangat diharapkan agar Hajarul Akbar bisa tampil maksimal di Turki, sehingga bisa meraih peringkat memuaskan. “Bukan suatu yang mudah menghafal 30 juz Alquran dan mengulang-ulangnya setiap hari, dan Hajarul Akbar telah melakukannya dengan baik,” ujar Teuku Zulkhairi.[](rel)