SUKA MAKMUE – Ziarah kubur menjadi tradisi masyarakat Aceh menyambut lebaran. Seluruh sanak saudara berkumpul untuk dapat berkunjung ke makam keluarga dan kerabatnya. Di Nagan Raya, ziarah kubur hanya dilakukan setahun sekali yaitu saat Lebaran Idul Fitri.
Saat ziarah makam itu, masyarakat tidak hanya berdoa dan membaca surat yasin saja. Ada satu tradisi lainnya, yakni rah muka. Rah muka atau cuci muka dilakukan saat selesai memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa untuk ahli kubur.
“Tradisi cuci muka sudah sejak lama dilakukan. Untuk niat tergantung orang yang melakukan, ya. Tapi kebanyakan melakukannya untuk meminta agar arwah-arwah saudaranya supaya menjaga para cucunya,” jelas Irmawan, tokoh adat Gampong Meurandeh, Kecamatan Seunagan, Nagan Raya, Jumat, 8 Juli 2016.
Dengan mencuci muka di makam, lanjut Irmawan, diyakini oleh masyarakat setempat sebagai obat mujarab ketika anak dan cucu sang ahli kubur sakit.
“Air yang diambil untuk cuci muka itu dipercaya sebagai obat yang diturunkan oleh Allah melalui perantara air cuci muka di makam,” kata Irmawan.
Sementara itu, Aulia, seorang peziarah di kawasan Gampong Nigan mengaku kegiatan cuci muka di makam sudah sejak ia kecil diterapkan oleh ibunya.
“Ini sudah tradisi turun menurun yang kami lakukan sejak kecil,” ujar Aulia.[]
Laporan Riski Bintang



