LHOKSUKON – Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina atau Kak Ana, ziarah ke makam ayah kandungnya, Usman Bin Shaleh, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gampong Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Kamis, 3 April 2025.
Ziarah dalam suasana Idulfitri ini menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk mengenang dan mendoakan leluhur.
Istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem itu didampingi putra sulung dan dua putrinya. Kedatangan mereka ke makam keluarga menjadi bagian dari tradisi umat Muslim, yang kerap memanfaatkan hari raya untuk berziarah dan memanjatkan doa bagi orang tua maupun sanak saudara yang telah berpulang.
Kak Ana bersama keluarganya berdoa agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Ia juga membersihkan pusara sang ayah sebagai penghormatan yang lazim dilakukan dalam tradisi ziarah di Aceh.
Bagi Kak Ana, momen ini tidak sekadar menjadi bentuk bakti kepada orang tua, tetapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai kebersamaan dan ketakwaan dalam keluarga. Ia berharap tradisi ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai wujud rasa hormat kepada para pendahulu.
Selain itu, ziarah di momen Idulfitri juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.
Rayakan Idulfitri
Dalam suasana yang penuh kehangatan, Kak Ana bersama anak-anaknya turut berkunjung ke sanak saudara. Ia mengisi libur lebaran dengan bersilaturahmi ke kampung halamannya di Gampong Simpang Rambong Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Kamis (3/4).
Setiba di rumah ibundanya, Kak Ana disambut hangat oleh keluarga besarnya. Suasana haru dan bahagia menyelimuti pertemuan tersebut, canda tawa dan kisah-kisah masa kecil kembali diceritakan di tengah keluarga yang sudah lama tak berkumpul lengkap.
Meskipun kini ia adalah istri Gubernur Aceh, Kak Ana tetap menjaga kesederhanaan dalam hidupnya. Rumah ibundanya juga terlihat cukup sederhana dengan posisi di tengah perdesaan yang asri, dikelilingi pepohonan kelapa, pinang, kakao, dan pisang.
Kesederhanaan ini mencerminkan kehidupan masyarakat Aceh yang erat dengan nilai-nilai kebersahajaan dan kebersamaan.
Kak Ana pun berbincang dengan tetangga yang datang bersilaturahmi. Ia menyampaikan bahwa Idulfitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
“Idulfitri mengajarkan kita tentang makna berbagi, kebersamaan, dan saling memaafkan. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara,” ujar Kak Ana.
Tradisi saling mengunjungi ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh yang tetap terjaga hingga kini. Momen silaturahmi ini bukan hanya menjadi ajang untuk melepas rindu, tetapi juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai keluarga dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.[]






