Oleh:
Wahyu Mattawang.
Praktisi Ziswaf Indonesia. Bergiat di Pengembangan SDM

Saya tahu, impian untuk menjejak kaki di depan Ka'bah adalah doa yg senantiasa dilapal siang dan malam bagi siapa pun yg memendam rindu untuk bersimpuh tepat di depan rumah Nya yg agung. Tak terkecuali, itu jualah impian kedua orang tua kami. 

Seberapa penting sebenarnya ziarah ke Baitullah dan Masjid Nabawi? Itu kan perlu biaya, msh ada ibadah lain yg juga besar pahalanya. Betul, anggapan itu tdk salah. Namun bagi orang yg telah mengkhusyuki seluruh ibadahnya, terutama shalat, maka dia akan sampai pada kerinduan yg memuncak untuk melihat Ka'bah lalu menziarahi makam Nabiyullah tercinta Muhammad SAW yg namanya kita sebut siang malam dalam kalimat syahadat dan shalawat.

Sekitar 12 tahun yg lalu saat pertama kali Bapak dan Ibu naik pesawat dari Makassar – Jakarta – Medan, beliau berdua sempat takut krn belum pernah naik pesawat sebelumnya, apalagi perjalanannya cukup jauh melintasi jarak ribuan KM hingga sampai ke Kota Meulaboh di tempat kami. Namun saya menguatkan beliau berdua bahwa anggap saja ini persiapan ke tanah suci. Sebelum ke Mekah, paling tdk sudah pernah ke Serambi Mekah.

Pernah saat i'tikaf Ramadhan beberapa tahun yg lalu di Aceh, saya tiba2 teringat kedua orang tua. Setelah sholat ashar, saya menelpon Bapak menanyakan kabar, sambil menahan tangis saya bertanya apakah Bapak dan Ibu ingin ke tanah suci? Saya menanyakan sesuatu yg sdh tahu jawabannya, tp saya ingin menyampaikan pesan kpd beliau bahwa kami pun anak2nya punya impian yg sama buat mereka berdua. 

Sejak saat itu, saya yakin Bapak dan Ibu makin kuat doanya agar impian itu bisa terwujud. Apalagi Ibu saya, beliau punya daftar doa untuk kami semua anak2nya, menantu dan cucu2nya yg dibaca selepas sholat. Subhanallah, saya merasa doa2 orangtualah yg membantu kami semua anak2nya hingga bisa seperti sekarang. 

Mengetahui kebiasaan ibu yg punya daftar doa, saya pun mengikuti kebiasaan itu. Bedanya Saya tdk bisa konsisten, kadang ingat kadang lupa membacanya. Dalam Islam kita diajarkan agar berdoa tidak boleh putus asa, yakin bahwa doa itu pasti terkabul, cepat atau lambat. Namun justru di sinilah tantangannya, ada doa yg sdh dipanjatkan bertahun-tahun tp seperti belum menunjukkan tanda2 akan terkabul.

Selain doa yg terus menerus, memantaskan diri adalah syarat berikutnya agar doa terkabul. Dengan kondisi diri yg seperti ini apakah sudah pantas dikaruniai nikmat oleh Allah sesuai yg dipinta dlm doa? Apalagi dlm Al Fatihah, nikmat yg kita minta kpd Allah sama dgn nikmat yg telah diberikan kpd para Nabi, syuhada dan shiddiqin, mereka yg istiqomah dalam iman dan amal shaleh.

Insya Allah, saya melihat Ibu dan Bapak sdh berusaha memantaskan diri dgn maksimal. Semua ibadah wajib dan sunnah seperti sdh terjadwal setiap hari. 

Akhirnya penantian panjang itu membuahkan hasil. Beberapa minggu yg lalu Bapak menelpon, mengabarkan kalau Bapak dan Ibu sdh didaftarkan umroh oleh Adik saya dan akan berangkat bulan ini juga. Kata Bapak sdh ada yg menanggung biayanya, sisa siapkan paspor saja. Bapak juga awalnya tdk tahu siapa org itu, yg jelas dia telah dipilih untuk mengeksekusi rencana Allah yg indah ini. Biarlah identitasnya tdk kami sebutkan di sini, namun kami yakin, Allah telah menyiapkan balasan yg terbaik untuknya.[]