Sabtu, Juli 13, 2024

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...
BerandaRajab Dalam Perspektif...

Rajab Dalam Perspektif Tafsir Ibnu Kasir

Rajab merupakan salah satu bulan yang mempunyai banyak kelebihan. Pembahasan kali ini kita mencoba mengkaji dan menelaah Rajab dalam perspektif tafsir khususnya kajian tafsir Ibnu Kasir dalam surat At-Taubah ayat 36, bunyinya:     

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Allah menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya dan ketahuilah, bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. at-Taubah / al-Bara’ah: 36)

Imam Ahmad berkata, “Isma’il telah bercerita kepada kami, Ayyub telah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sirin memberitahu kami, dari Abi Bakrah, bahwasannya Nabi Muhammad saw., menyampaikan khutbah pada saat haji, seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa zaman berputar seperti keadaannya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan-bulan suci, tiga berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudharr yang berada di antara Jumadi dan Sya’ban.”

Setelah itu Rasulullah saw., bertanya: “Hari apa ini?” Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Lalu, Rasulullah terdiam, hingga para sahabat mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau berkata: “Bukankah (ini) hari penyembelihan hewan kurban?” Sahabat menjawab: “Ya”.

Kemudian beliau bertanya: “Bulan apa ini?” Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau terdiam hingga para sahabat mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah (ini) bulan Dzulhijjah?” Sahabat menjawab: “Ya”.

Kemudian beliau bertanya: “Negeri apa ini?” Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau terdiam hingga sahabat mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah negeri ini (negeri Haram)?” Sahabat menjawab: “Ya”.

Beliau bersabda:“Sesungguhnya darah, harta,–dan aku mengira beliau mengatakan–dan kehormatanmu diharamkan atas kamu seperti diharamkannya hari ini, di bulan ini, di negerimu ini. Kamu akan bertemu dengan Rabbmu dan Allah akan bertanya tentang perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai setelah aku wafat, kamu kembali kepada kesesatan, kamu saling membunuh. Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan? Ingatlah, yang hadir saat ini hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir, mudah-mudahan (terkadang) orang yang menyampaikan lebih faham daripada sebagian orang yang mendengar”.

Hadis ini juga diriwayatkan al-Bukhari dalam at-Tafsir, begitu juga dengan Muslim.

Firman-Nya: (“Di antaranya empat bulan haram) ini juga yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada zaman Jahiliyyah, mereka mengharamkan bulan-bulan itu kecuali sekelompok dari mereka yang disebut dengan al-Basal, dimana mereka mengharamkan delapan bulan dalam setahun karena sikap mereka yang berlebihan. Sedangkan sabda Rasulullah saw: “Tiga berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, serta Rajab Mudharr yang berada di antara Jumadi dan Sya’ban.”

Rasulullah menisbatkan kepada Bani Mudharr untuk menjelaskan kebenaran perkataan mereka tentang Rajab, bahwa bulan ini berada antara Jumadi dengan Sya’ban. Tidak seperti yang dikatakan oleh Bani Rabi’ah, bahwa Rajab yang diharamkan adalah bulan antara Sya’ban dengan Syawwal, yaitu Ramadhan.

Maka Rasulullah menjelaskan, bahwa yang benar adalah Rajab Mudharr dan bukan Rajab Rabi’ah. Sedangkan bulan-bulan haram itu adalah empat bulan, tiga berurutan dan satu menyendiri adalah untuk pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Jadi sebelum bulan-bulan haji, diharamkan satu bulan, Dzulqa’dah karena saat itu mereka berhenti dari peperangan.

Dan diharamkan bulan Dzulhijjah, karena mereka melaksanakan ibadah haji. Dan diharamkan satu bulan setelahnya, Muharram, agar mereka bisa pulang ke negeri mereka dengan aman.

Diharamkan Rajab yang berada di tengah tahun untuk memudahkan yang berada di pinggiran Jazirah Arabia, jika ingin umrah atau berziarah ke Baitullah. Mereka bisa melakukan dan kembali ke negerinya dengan aman.[]

Baca juga: