BIREUEN – Barisan Muda Ummat (BMU) Pusat menggelar rapat konsolidasi setelah meninggalnya Imam Besar BMU Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop). Rapat itu berlangsung di pelataran Dayah Rauhul Mudi Al Aziziyah Jeunieb, Bireuen, Senin, 14 Oktober 2024, malam. Rapat dibukaoleh anak (alm.) Tu Sop, Tgk. H. Muzammil.
Humas BMU, Al Fadhal, menyebut rapat konsolidasi BMU dihadiri pengurus DPW BMU Kabupaten/Kota di Aceh, BMU perwakilan Malaysia dan sejumlah pengurus BMU pusat, Dewan Mustasyar Tgk. Ihsan M. Jafar, Litigator Hukum BMU Zulfikar Muhammad, Gerakan BMU Peduli dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Ketua Umum BMU Pusat, Tgk. H. Muhammad Yusuf Nasir akrab disapa Abiya Jeunieb, mengatakan seluruh peserta sepakat memperjuangan BMU yang diwarisi Tu Sop itu terus dilanjutkan. Untuk itu perlu dukungan semua pihak dan seluruh donatur yang telah bergabung dalam membesarkan BMU.
“Kami berikrar melanjutkan gerakan phylantropi BMU-WPU yang telah diwarisi almarhum Ayahanda Tu Sop dalam membantu pergerakan dakwah sosial masyarakat Aceh. Mohon dukungan seluruh masyarakat Aceh di dalam maupun di luar negeri dan  semua pihak yang telah menyukseskan program ini,” kata Abiya Jeunieb yang juga Pimpinan Dayah Rauhul Mudi Al Aziziyah.
Litigator Hukum BMU, Zulfikar Muhammad, dalam sambutanya menyebut Mars BMU terdapat tujuh kali disebut kata peradaban. “Itu karena cita-cita Allahhuyarham Tu Sop yang ciptakan Mars BMU menandakan beliau cukup serius dalam hal peradaban”.
“Tu Sop tak pernah mengeluh berada dalam kondisi bangsa seperti ini, Ayah justru mendesain konsep baru memperbesar kekuatan dan menyakinkan kita bahwa Islam adalah solusi,” ujar Zulfikar Muhammad yang juga mantan Direktur Koalisi NGO HAM Aceh.
Di sisi lain, sebut Zulfikar, Tu Sop melahirkan tiga kekuatan besar secara perlahan. Di urutan pertama BMU. BMU ini gerakan yang diharapkan oleh Tu Sop menjadi besar dan kuat dengan konsep dari ummat untuk umat. Konsep ini mampu bangkit saat kondisi negara sedang tepuruk maupun kondisi bangsa sedang perang.
Kedua, Tu Sop melahirkan kader dakwah (TKD) HUDA untuk menghadapi dunia global ke depan. “Konsep ini mempersiapkan anak-anak muda  generasi kita memahami fardhu ‘ain dalam menghadapi tantangan global saat orang asing masuk dengan gaya dan budayanya sehingga generasi kita mampu menghadapi dan bersaing dengan gaya dan budaya Islam”.
Ketiga, Tu Sop juga pencetus At Ta’awun, konsep ini dipersiapkan untuk menghadapi problem umat kalangan pedagang kaki lima, para penjual ikan dan para pedagang toko terlepas dari praktik riba dengan alasan kekurangan modal. Tu Sop ingin melepaskan mereka dalam genggaman para peminjam modal. Ta’awun saat ini belum banyak dirasakan manfaat oleh masyarakat umum hanya terbatas pada para anggota majelis taklim di internal ta’awun. “Tapi konsep ini perlu dijalankan umat agar terlepas dari praktek riba,” ujarnya.
BMU-WPU saat ini telah berhasil membangun 119 rumah  dari donasi masyarakat Aceh di dalam maupun luar negeri melalui donasi BMU Peduli. Dari jumlah itu, sudah dilakukan penyerahan kunci 117 rumah tersebar di sejumlah wilayah di Aceh.[](ril)