SIGLI – Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof Dr Samsul Rizal, menilai pencetusan pasar bebas Asia Tenggara atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merugikan Aceh dan Indonesia secara umum. Pasalnya Indonesia tidak memiliki persiapan menghadapi pasar global Asean dibandingkan negara Asia lainnya.

Hal itu dikatakan Rektor ketika diminta pendapatnya terkait pembukaan pasar bebas Asean sejak Desember 2015 silam, Senin 11 Januari 2016. Menurutnya,

Aceh, bahkan Indonsia akan kalah bersaing dengan negara lain di Asia Tenggara yang sudah mempersiapkan puluhan tahun dari segala bidang termasuk industri.

“Bagi kita MEA sangat merugikan daerah dan negara, karena mereka akan memanfaatkan kita sebagai sasaran pasar hasil produk negara mereka,” katanya, selepas upacara pelepasan masiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sigli, Pidie.

Samsul mengatakan, dari sektor Sumber Daya Manusia (SDM), kualitas Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara anggota lainnya.

“Rata-rata tingkat pendidikan kita kelas 1 SMP, sedangkan Malaysia rata-rata hampir tamat SMA, apalagi Singapura, mereka rata-rata kuliah. Kondisi ini membuat peluang kita kecil untuk bisa bersaing di kancah MEA,” kata Rektor Unsyiah ini.

Sebenarnya bagi Indonesia, tanpa MEA lebih diuntungkan, mengingat negara memiliki potensi 250 juta penduduk. Jumlah ini setengah dari total jumlah penduduk Asean.

“Mereka yang jumlah populasi kecil tapi memiliki keunggulan produk dan jasa, tentu akan memanfaatkan potensi Indonesia sebagai konsumen,” kata Samsul Rizal.[](tyb)