BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Reza Fahlevi mengatakan, potensi wisata alam Aceh sudah tak diragukan lagi keindahannya. Sebagai contoh kata dian pemandangan di Gunung Geurute, Aceh Jaya yang membuat pengunjung berdecak kagum melihatnya.
Namun, dalam mengelola industri pariwisata kata Reza, keindahan destinasi tersebut harus sejalan dengan faktor pendukung lainnya. Reza menjabarkan hal tersebut dengan what to see (yang bisa dilihat), what to do (yang bisa dilakukan), dan what to buy (yang bisa dibeli).
“Di Aceh what to see-nya banyak, tapi what to do-nya itu terbatas. Artinya daya tarik kita sudah mencukupi, tapi mau ngapain sampai di situ, siapa yang mengurus penginapan, siapa yang jadi guide-nya, apa ada toiletnya,” kata Reza saat menghadiri peluncuran Forum Aceh Menulis di Museum Aceh, Rabu sore, 16 Agustus 2017.
Sementara what to buy, apa yang bisa dibeli oleh turis saat berkunjung ke suatu destinasi. Entah itu makanan, ataupun souvenir yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Nah di sinilah kita butuh orang-orang, butuh operator. Keindahan alam saja tidak cukup jika tidak ada yang mengelola, inilah pekerjaan kita sekarang, bagaimana menciptakan semua komponen ini.”
Reza menjabarkan, ada empat poin utama dalam mengembangkan industri pariwisata yaitu destinasi (asesibilitas, atraksi, amenitas), promosi (branding, advertising), SDM, dan industri.
Terkait dengan sumber daya manusia kata Reza, hampir seluruh objek wisata di Aceh dikelola masyarakat dan umumnya SDM mereka masih belum mumpuni.
“Ini tugas kami memastikan SDM pengelola destinasi wisata berstandar global,” kata Reza.
Dalam hal industri, pihaknya juga memastikan agar semua sektor bisa saling bersinergi sehingga berdampak pada berkembangnya pariwisata Aceh.[]



