Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Autisme, tunagrahita, tuna rungu, tuna netra, tunawicara dan tuna daksa. Mungkin kata-kata ini jarang didengar oleh orang-orang yang jarang mendengarnya begitu pula sebaliknya. Akan tetapi tidak bagi mereka. Mereka yang mengajar di Sekolah-Sekolah Luar Biasa (SLB), menurut jenjang masing-masing, seperti sekolah-sekolah biasa pada umumnya.

Adalah seorang dara kampung, ia bernama Rosdiana Binti (Alm) Asnawi. Setelah lulus dari Sekolah Menengah ke Atas (SMA) pada tahun 2011 lalu. Di usianya yang masih muda, telah menjadi salah seorang guru di sekolah khusus bagi mereka-mereka yang berkebutuhan khusus tersebut. Mengajar dan mengajar, mungkin hanya itu yang ada di benaknya. Bukan pada keluhan-keluhan yang tiada berarti.  

Kecamatan Dewantara, tepatnya di Gampong Uteuen Geulinggang, Krueng Geukueh yang tiada jauh dari kampung lahirnya. Di sanalah ia mengahabiskan hari-hari mudanya dengan anak-anak yang berkebutuhan lebih itu. Bukan seperti rakan-rakan seangkatannya, yang menghabiskan masa-masa muda mereka di kampus.

Sudah hampir empat tahun ianya mengajar di sekolah SLB YPAC Dewantara tersebut. Anak-anak yang diajarinya itu mempunyai kelebihan masing-masing. Dan sudah pasti, Ros bukan sendiri. Namun penulis tertarik untuk menuliskan kisahnya. Kerana mungkin, jarang ada yang mahu untuk melayani baik mengajari mereka-mereka yang berkebutuhan khusus tersebut di usia yang masih sangat relatif muda.

Setelah menerima tawaran untuk mengajar di sekolah tersebut, hari-hari yang ia jalani seketika berbeda. Hampir sepekan di awal-awal mengajar, ia terus menangis. Rasa sayang, prihatin dan semua bercampur menjadi rasa syukur yang tiada mudah untuk bisa diungkapkan ke dalam kata-kata.

Oleh sabab mengingat pada diri yang bukan seperti mereka (anak-anak yang berkebutuhan khusus), bersyukur kepada Sang Pencipta ialah sebuah keutamaan bagi makhluk-Nya. Setiap sesuatu itu telah terjadi. Harus dan sudah menjadi kewajibannya (Rosdiana), berusaha untuk bisa berbaur bersama mereka (anak-anak didiknya itu).

Saban hari ia pun mulai terbiasa, oleh kerana senior-seniornya yang turut menyemangati. Berbagai macam pola anak telah dihadapinya. Menjadi pengajar di sekolah-sekolah biasa, jauh sangat berbeda dengan mereka (guru-guru) yang mengajari anak-anak yang berkebutuhan lebih tersebut.   

Mereka yang menderita autis, tunawicara, tuna rungu, tuna netra, tunagrahita, tuna daksa. Semua mereka itu, sungguh bukan lagi menjadi masalah bagi para pengajarnya dalam hal mengajari, menghadapi anak-anak tersebut. Bahkan sudah menjadi bagian dari kesenangan tersendiri. Baik di kala mengajari anak-anak tersebut tentang menghitung, membaca dan segala hal lainnya.  

Jikalau berbicara tentang kerumitan, masalah. Di kala menghadapi anak-anak tersebut. Mungkin. Orang-orang di kesehatan lebih faham tentang kelebihan pada mereka yang mengalami hal tersebut. Hari ini, bagi siapa sahaja. Tiada terkecuali, yang masih menganggap menjadi pengajar di sekolah luar biasa (SLB) itu mudah. Sesekali waktu sempatkanlah diri anda, tidak untuk hal yang lain. Cukup hanya untuk memperhatikan mereka sahaja di sekolahnya. Dan apa yang akan anda rasakan, temukan?

Guru-guru yang sangat luar biasa dan pekerjaan yang dilakukanpun jauh lebih dari luar biasanya, sangat-sangat patut diapresiasikan. Kerana pengajar di sekolah-sekolah biasapun banyak kita dengar dari mereka yang mengeluh atas tingkah anak didiknya. Tapi sungguh tiada seberapa dengan apa yang dirasakan, didapati, dialami oleh mereka yang mengajar di sekolah luar biasa (SLB) di seluruh Indonesia ini, bukan melebih-lebihkan. Akan tetapi bukti yang telah berbicara.

Rosdiana, tetap akan menjadi Rosdiana. Begitu juga dengan siapa sahaja yang telah menjadi guru di sekolah-sekolah (SLB) tersebut. Sungguh anda-anda adalah orang yang luar biasa dan sangat-sangat berjasa. Tetap bersemangat, jalani amanah mulia itu dengan seikhlas mungkin. Terus bimbing mereka, ajari apa sahaja yang dibutuhkan. Dan di hari kemudian, sungguh keindahan sudah disediakan oleh sang Pencipta untuk guru-guru yang luar biasa tersebut.

Dan bukan tiada mungkin, anak-anak yang Ibu-Bapak ajarkan itu akan menjadi orang hebat di masanya. Helen Adams Keller, telah lebih duluan membuktikan tentang semua itu. Walaupun ia seorang yang mengalami hal tersebut, akan tetapi ia bisa dan mampu menjadi seorang dosen di Amerika, penulis terkenal, aktifis politik dan menguasai berbagai bahasa.

Bukan berarti oleh sabab keterbatasan pada fisik, tiada bisa untuk melakukan apa-apa. Akan tetapi kita (yang bukan seperti mereka) harus malu, selain daripada keharusan untuk belajar bersyukur daripada mereka-mereka itu. Apa yang sudah kita lakukan untuk hari ini dan apa yang sudah kita dapati di usia yang semakin hari semakin berlanjut?    

Keterangan:

Autisme     : Gangguan pada perkembangan, perasaan tidak bisa terkontrol. 
Tunagrahita: Lamban dalam segala hal.
Tuna rungu : Tuli
Tuna netra  : Buta
Tunawicara : Lamban berbicara, bisu
Tuna daksa: Gangguan pada otot, persendian, tidak bisa berjalan.

Syukri Isa Bluka Teubai, Berdomisili di Banda Aceh, Alumnus Misbahul Ulum 2009, Alumnus sekolah Hamzah Fansuri 2015, Mahasiswa Semester Sepuluh Bahasa Arab UIN Ar-Raniry.