Kamis, Juli 25, 2024

Buka Rapimda KNPI Subulussalam,...

SUBULUSSALAM - Penjabat (Pj) Wali Kota Subulussalam, H. Azhari, S. Ag., M.Si mengatakan...

BI Lhokseumawe Gelar ToT...

LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota...

PPK Sawang: Uang Operasional...

ACEH UTARA - Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sawang di bawah Komisi Independen Pemilihan...

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...
BerandaRuh, Zikir dan...

Ruh, Zikir dan Alquran

Oleh Taufik Sentana*

Ada Hadis mashur yang menyebutkan bahwa perumpamaan orang yang mengingat Allah dan yang tidak mengingatNya seperti orang hidup dan orang mati (mayat, bangkai). Ini dalil yang sering digunakan untuk menunjukkan pentingnya mengingat Allah dalam setiap keadaan sehari-sehari.

Ungkapan Hadis di atas juga menihilkan makna hidup dalam teori Biologi, fisika dan kimia. Artinya, bila seorang itu bisa tumbuh, berkembang, bekerja dan memenuhi kebutuhannya, ia belum dikatakan hidup dalam pandangan Islam.

Kenapa demikian?
Karena manusia memiliki dimensi ruh, dimensi spirituil, dimensi yang hanya bisa dijangkau lewat ajaran wahyu kenabian. Sehingga keterbutuhan “ruh” untuk menerima asupan berupa zikir atau mengingat Allah dan beramal salih merupakan acuan seseorang itu “hidup” atau tidak. 

Selain sebagai unsur yang “menghidupkan”, ruh juga disebut sebagai nama lain dari Alquran (Mushtafa Umar, Riau, 2018), juga dapat dirujuk ke tafsir Ibnu Katsir. Ini menjadi penting bahwa orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikitpun Alquran, maka seakan dirinya hidup tanpa ruh, atau semisal bangkai (semoga Allah Membimbing kita )

Namun, di samping itu Alquran juga umum kita kenal memiliki nama sebutan lain sebagai az-zikra, pengingat dan peringatan. Dari makna ini kita mencerna bahwa Alquran (membaca, menghafal, mengajar )  menjadi medium seorang hamba untuk mengingat Allah. 

Tapj bedanya dengan zikir yang lazim (Abd.Somad, 2018), bila kita membaca dan menghafal Alquran, automatis kita mengingat Allah. Beda halnya dengan zikir, belum tentu sama nilainya dengan membaca dan mengajarkan Alquran.

Demikianlah sekelumit kaitan antara ruh, zikir dan Al-quran , yang kiranya menjadi penentu apakah kita layak disebut orang yang benar-benar hidup?[]

*Taufik Sentana
Staf Ikatan Dai Indonesia, Kabupaten Aceh Barat.

Baca juga: