Senin, Juni 24, 2024

All New Honda BeAT...

BANDA ACEH - Sehubungan dengan peluncuran All New Honda BeAT series terbaru oleh...

Kapolri Luncurkan Digitalisasi Perizinan...

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo meluncurkan sistem online single...

HUT Ke-50 Aceh Tenggara,...

KUTACANE - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Aceh Tenggara membuka stan pelayanan...

Atlet KONI Aceh Rebut...

BANDA ACEH - Prestasi mengesankan ditoreh atlet binaan KONI Aceh yang dipersiapkan untuk...
BerandaInspirasiTeknoSaatnya Warung untuk...

Saatnya Warung untuk Anak?

 

Memperhatikan perkembangan budaya pop yang terus menjamur, apalagi dengan semaraknya layanan berbasis digital dan android, sangat penting memperhatikan pergeseran nilai pergaulan di kalangan anak anak kita, utama yang masih menjelang remaja, usia SD dan SMP.

Sebagian dari mereka sudah terbiasa menghabiskan waktu luang di warung dengan memanfaatkan layanan wifi, terlebih lagi saat liburan. Sayangnya, sepengetahuan penulis, belum ada warung yang khusus untuk anak. Kiranya ini menjadi awal pertimbangan saat mulai tergerusnya nilai sosial anak dengan berkembangnya permainan “maya”. 

Pada mulanya, warung memang berkonotasi untuk orang tua, kini bahkan warung banyak dipadati oleh pengunjung wanita, termasuk anak-anak. Untuk itu, menyiasati warung khusus anak, yang di dalamnya tersaji menu menu yang layak untuk anak, sebab terlalu dini bila mereka mulai terbiasa dengan kopi, tercemar asap rokok (bahkan ada yg merokok), minuman isotonik/sejenisnya. Kita juga perlu melengkapi varian lain dari warung minum tersebut dengan buku buku, permainan dan kegiatan edukatif berbasis interaksi sosial dan fisik. Sesekali warung itu tutup karena ada kegiatan pengajian atau semacamnya. Dengan maksud agar tumbuh kembang anak di luar rumah juga terbina lewat perhatian pemerintah setempat, dan swadaya masyarakat.

Sebab bagaimanapun akan sulit membendung banjir budaya pop yang membawa nilai dan gaya baru dalam berinteraksi dan mengonsumsi apapun. Perhatian kita akan hal ini, mungkin menjadi langkah kecil bagi “pemeliharaan” generasi agar tidak kehilangan produktivitas dan nilai hidup yang lebih tinggi.[]

Taufik Sentana
Peminat Literasi sosial

Baca juga: