BANDA ACEH – Seorang sastrawan asal Aceh, Azhari Aiyub, mengapresiasi sikap sastrawan Afrizal Malna yang  menolak menerima Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) pada di Djakarta Theatre, Jakarta, Sabtu 20 Agustus 2016 malam.

“Aku salut. Itu hadiahnya besar. Tapi Afrizal Malna menolaknya, aku tidak tahu alasannya. Dan, ia menolak Penghargaan Achmad Bakrie itu dengan halus,” kata Azhari, yang merupakan pengasuh rubrik budaya koran harian terbesar di Aceh ini.

Azhari mengatakan, Komite Pemberantasan Korupsi (KPK), sebaiknya menjadikan sikap Afrizal tersebut sebagai contoh yang dapat menginspirasi banyak orang.

“Itu penting, maksudnya, penting bagi KPK untuk menyebarkuaskan sikap Afrizal Malna supaya orang lain terispirasi,” kata Azhari.

Sebelumnya, Beritasatu.com, mengabarkan Afrizal menegaskan yang terpenting adalah Yayasan Achmad Bakrie memberikan secara tulus penghargaan tersebut. Ketokohan Afrizal dalam bidang sastra tidak bisa dibantah. Berbagai karyanya telah memberikan pengaruh terhadap perjalanan sastra di bangsa ini.

“Yang kami hargai karyanya. Kita semua sudah tahu pemikiran dan karyanya. Apa dia setuju atau tidak penghargaan, itu soal pribadi. Tetapi penghargaan atas karyanya tetap kami berikan,” tutur Rizal.
Menurutnya, Afrizal diberikan penghargaan karena keberaniannya membangun arsitektur puisi dengan atau tanpa manusia di di dalamnya. Dia juga gigih melakukan penjelajahan puisi Indonesia modern ke dalam kehidupan urban yang penuh kekerasan, kegilaan sekaligus kesunyian. Kemudian melahirkan karya dengan tata bahasa visual dari sesuatu yang diungkapkan melalui daya penalaran anak-anak sehingga terbebas dari politik pemaknaan orang dewasa.

Penolakan terhadap Bakrie Award bukan baru kali ini. Pada ajang-ajang sebelumnya juga pernah ada penolakan. Misalnya Franz Magnis Suseno (pemikiran sosial, 2007), Daoed Joesoef dan Sitor Situmorang (pemikiran sosial dan kesusastraan, 2010). Ada pula Seno Gumira Adjidarma (kesusastraan, 2012) dan Goenawan Mohamad (Kesusastraan, 2010). Karena itu, penolakan Afrizal adalah hal biasa dalam ajang penghargaan.

Pada tahun 2015 Indonesia menjadi Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair (FBF), digelar pada 14-18 Oktober 2015 di Jerman. FBF adalah pameran buku tertua dan terbesar di dunia yang dihadiri lebih dari 132 negara dan lebih dari 260 ribu pengunjung. Karya Afrizal Malna dan Azhari Aiyub, termasuk di dalam FBF tahun itu.

Laman beritametro.co.id menyiarkan, Penerima Penghargaan Achmad Bakrie kategori Kesusasteraan, Afrizal Malna, menolak menerima penghargaan. 

Penasihat Komite Penghargaan Achmad Bakrie Rizal Mallarangeng mengatakan penolakan itu bukan persoalan.”Walaupun Afrizal Malna menolak, tidak menggugurkan penghargaan ini,” kata Rizal Mallarangeng di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, kemarin.

Rizal menjelaskan apa yang sudah dilakukan Afrizal telah memperkaya kebudayaan bangsa Indonesia. Pihaknya mengapresiasi dan berharap generasi muda terinspirasi dari karya-karya yang sudah dihasilkan Afrizal. Bahkan Rizal membandingkan hal ini dengan penghargaan Nobel yang juga pernah ditolak, oleh para penerimanya. Seperti yang dilakukan oleh sastrawan asal Prancis, Jean Paul Sartre. “Ada kontroversi, buat kami tak ada soal.”ujarnya.

Sejumlah tokoh pernah menolak menerima penghargaan Achmad Bakrie, seperti Franz Magnis Suseno di kategori Pemikiran Sosial pada 2007. Rizal mengungkapkan meski Afrizal menolak menerima, penghargaannya tak dipindahkan ke orang lain.Afrizal mendapatkan penghargaan tersebut lantaran dianggap memiliki keberanian membangun arsitektur puisi dan kegigihannya melakukan penjelajahan puisi Indonesia modern ke dalam kehidupan urban yang keras.

Selain Afrizal, tokoh lain yang penah menolak menerima penghargaan adalah Daoed Joesoef dan Sitor Situmorang pada 2007 untuk kategori Pemikiran Sosial dan Kesusasteraan. Seno Gumira Ajidarma juga melakukannya pada 2007, sementara Goenawan Mohamad mengembalikan penghargaan yang ia terima pada 2004 di tahun 2010.

Sastrawan dan penyair Afrizal Malna menolak Achmad Bakrie Award 2016 di bidang kesusastraan. Menurut penyair 59 tahun ini, penghargaan Ahmad Bakrie bisa membuat karyanya terkotak-kotak, cuma bergabung dengan satu kelompok saja. 

Bila ia menerima penghargaan tersebut, kata Afrizal, karya-karya yang pernah diciptakannya melenceng dari tujuan semula. “Artinya, saya menjadi bagian konstruksi dia. Jadi lebih baik tidak terima saja,” kata Afrizal Minggu, 21 Agustus 2016.

Selain itu, Afrizal menilai penghargaan Achmad Bakrie Award ini sudah membentuk citra tertentu di mata publik. Salah satu alasannya, katanya, latar belakang bisnis keluarga Bakrie. 

“Jadi aku terima atau aku tolak, sama saja dan tidak ada dampaknya. Kalau misal aku ambil duitnya, itu aneh juga,” kata Afrizal yang juga aktif di dunia seni pertunjukan. 

Afrizal menganggap penghargaan terhadap dunia sastra adalah upaya pembisuan terhadap perkembangan kesusastraan. Ia menyatakan tak menyukai adanya pengkotak-kotakan dalam kesusastraan. “Jadi kaitannya hadiah ini ada di konstelasi politik bergayaan yang susah dicari ujung pangkalnya,” ujar dia, sebagaimana disiarkan beritametro.co.id.

Namun ia mengapresiasi panitia Achmad Bakrie Award yang telah menunjuknya sebagai penerima penghargaan melalui hasil riset yang lengkap dan utuh. Ini berbeda dengan penghargaan kesusastraan lain. 

“Penghargaan ini ada argumentasinya, tetapi sayangnya, ada dalam pengotak-ngotakan konstelasi keberpihakan,” katanya.[]