Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaSatgas Covid-19 Unsyiah:...

Satgas Covid-19 Unsyiah: Tenaga Medis Keluhkan Isolasi Sosial dari Masyarakat

BANDA ACEH – Tim Survei TDMRC, bagian dari Satgas Covid-19 Unsyiah, melaporkan hasil kajian terkait perilaku perlidungan diri tenaga kesehatan terhadap pandemi Covid-19 di Aceh. Salah satu hasilnya, sebagian responden yang merupakan tenaga medis tersebut mengeluhkan isolasi sosial dari masyarakat karena profesi mereka.

Ketua Tim Survei TDMRC, dr. Ichsan, M.Sc., Senin, 13 April 2020, menjelaskan survei ini diikuti 1.132 responden dari 12 profesi kesehatan yang bertugas di layanan kesehatan publik di 23 kabupaten/kota di Aceh.

Lebih dari 90% responden merasa dirinya sangat berisiko tertular virus corona dalam melakukan tugasnya. Selain itu, terdapat ironi yang berkembang dalam masyarakat yaitu adanya isolasi sosial terhadap tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kepada pasien Covid-19.

“Beberapa keluhan yang disebutkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh tentang adanya keluhan petugas medis yang ditolak oleh warga kampungnya saat akan kembali ke tempat tinggalnya setelah selesai bertugas melayani pasien Covid-19 adalah benar adanya,” ucap Ichsan.

Menurut Ichsan, hal ini menjadikan stresor tersendiri bagi petugas pelayanan kesehatan di lini terdepan penanganan pasien Covid-19. Stigma tersebut justru bisa melemahkan semangat mereka dalam melayani, terutama saat terjadi wabah seperti ini.

Hasil kajian ini juga menunjukkan lebih dari setengah (51%) responden merasa tempat mereka bekerja belum memberikan perlindungan optimal bagi mereka agar terhindari dari Covid-19.

Terkait upaya perlindungan diri, 96% responden menjawab bahwa mereka selalu berupaya meningkatkan proteksi diri sejak isu pandemi merebak. Salah satunya dengan sering mencuci tangan. Lalu, lebih dari 90% responden menyebutkan mereka selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan.

Adapun Alat Pelindung Diri (APD) yang paling sering digunakan oleh responden adalah masker bedah (80%) dan handscoen (55.7%). Dalam survei ini juga terungkap 77,9% tenaga kesehatan yang menjadi responden masih kesulitan dalam memperoleh APD saat bertugas.

Oleh karena itu, dari hasil kajian ini maka Unsyiah memberikan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah Aceh. Pertama, memberikan pelatihan memadai tentang upaya proteksi diri dan penggunaan APD bagi tenaga kesehatan di Provinsi Aceh secara merata.

Kedua, memastikan ketersedian APD bagi tenaga kesehatan, mulai dari mereka yang bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19 sampai ke tingkat layanan primer.

Ketiga, menjamin kesejahteraan baik materiil maupun sosial bagi tenaga kesehatan terutama mereka yang melakukan pelayanan/penanggulangan wabah Covid-19 secara langsung.

Keempat, memberikan jaminan kesehatan bagi tenaga medis dengan asuransi kecelakaan kerja terbaik, mengingat risiko yang mungkin dialami saat menangani pasien Covid19 sangat tinggi.

Kelima, menyediakan asuransi jaminan hidup bagi keluarga yang ditinggal jika ada tenaga medis yang gugur dalam menjalankan tugas mulia menangani pasien Covid-19.

“Melalui kajian ini, kita berharap pemerintah bisa memberikan dukungan penuh kepada tenaga kesehatan. Begitu pula masyarakat, agar tidak mengucilkan mereka yang telah berjuang menghadapi pandemi ini,” ucap Ichsan.[]

Baca juga: