SUBULUSSALAM – Kondisi perekonomian petani di wilayah Kota Subulussalam mulai lesu disebabkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turun sejak awal Maret lalu. Hingga akhir April, harga sawit belum kembali normal.

Kondisi ini mulai menimbulkan keresahan di kalangan petani mengingat bulan Ramadan akan segera tiba sekitar tiga pekan ke depan. Dimana pada saat bulan puasa hingga menyambut lebaran kebutuhan meningkat, sementara sumber penghasilan mereka dari TBS masih tergolong murah yakni hanya Rp 1.300 per kilogram di tingkat petani.

“Ya, beginilah kondisi ekonomi sekarang, harga TBS murah karena turun terus, tidak lagi puas,” kata salah seorang petani di Kota Subulussalam, Afdal kepada portalsatu.com, Selasa, 25 April 2017.

Ia mengatakan harga TBS sangat berdampak terhadap kondisi perekonomian masyarakat yang selama ini menggantungkan hitup dari usaha kepala sawit. Pasalnya sekitar 80 persen mata pencarian warga di Bumi Sada Kata ini berasal dari tanaman sawit.

“Pertumbuhan ekonomi petani sempat membaik sekitar tiga bulan terhitung akhir Desember sampai awal Maret harga Rp1.700 per kilogram. Sekarang terlihat lesu di saat harga sawit murah,” katanya.

Sukriadi petani lainnya menambahkan harga TBS Rp 1.300 per kilogram belum berada pada titik aman. Ini mengingat harga kebutuhan pokok sangat mahal, belum lagi biaya perawatan kebun dan biaya membeli pupuk.

“Idealnya harga TBS minimal tingkat petani Rp 1.700 per kilogram karena harga kebutuhan pokok sekarang mahal-mahal. Jika sawit masih murah, petani melarat, ini sebentar lagi puasa. Semoga saja TBS segera naik mencapai titik aman,” katanya.[]