BANDA ACEH – Reni Rahayu, 38 Tahun, tak sanggup menahan tangis usai keluar dari Ruang Instalasi Pemulasaraan Jenazah, Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Sabtu 2 Maret 2019 siang. Didampingi sang suami Sofyan, Reni sesekali mengusap pipi dengan jari tangan tanpa tisu.
Siang itu Reni dan suami baru diizinkan penyidik dan petugas rumah sakit melihat jenazah anaknya, Raihan Alsyahri, 16 tahun, yang ditemukan tewas di kebun warga dekat kompleks Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar sehari sebelumnya.
SUPM merupakan tempat Raihan menimba ilmu. Raihan yang berasal dari Binjai, Sumatera Utara baru sekitar delapan bulan di sana, ia masih duduk di kelas satu sekolah bidang perikanan tersebut. Reni Rahayu, Ibu Raihan tak menyangka anaknya pergi meninggalkan mereka secepat itu. Sebab, tidak ada tanda – tanda baginya akan kepergian Raihan baik melalui mimpi atau petunjuk lain.
Bahkan, beberapa hari sebelum dikabarkan ditemukan tak bernyawa dekat sekolahnya, Raihan dan ibu sempat chattingan di media sosial facebook.
“Kami ada chatting kalau gak salah Selasa, 26 Februari 2019 malam. Raihan memang tidak memberi tau detail apa yang dialami. Dia anaknya enjoy aja, tapi ada disebut kalau dia dalam tekanan. Masalahnya sudah sampai ke Jakarta. Tapi dia tidak menjelaskan, apa masalahnya. Gak apa-apa katanya,” demikian kata Reni Rahayu menirukan chattingan anaknya, Raihan lewat chattingan facebook malam itu.
Apabila merujuk hari penemuan Raihan dengan waktu cattingan, percakapan lewat medsos dengan ibunya tersebut, terjadi tiga hari sebelum Raihan ditemukan tewas. Sementara pada hari Senin 25 Ferbruari 2019, Raihan juga sempat ngobrol lewar telfon dengan ayahnya.
“Iya, kami teleponan hari Senin, tiga hari sebelum ada kabar meninggal chattingan dengan ibunya. Saya berharap kepolsian dapat mengungkap penyebab meninggalnya anak kami itu. Kalau dia dibunuh, pelakunya harus dihukum sesuai apa yang diperbuat,” timpal Sofyan, suami Reni Rahayu yang juga ayah kandung korban Raihan.
Reni dan suami menerima kabar anak mereka Raihan ditemukan tak bernyawa 300 mater dari kompleks SUPM Ladong, beberapa saat setetelah penemuan. Sorenya dari tempat tinggal Binjai, Sumatera Utara mereka langsung bergegas menuju ke Banda Aceh menggunakan jasa bus penumpang dan tiba Banda Aceh sekira pukul 09.00 WIB pagi, langsung ke Polresta memastikan kepergian anak mereka, lalu ke RSUZA.
***
Sementara di Kompleks SUPM Ladong, Sabtu 2 Maret 2019 tampak sepi, seorang petugas security duduk di pos jaga depan pintu masuk pagar kompleks. Ia meminta identitas setiap tamu yang masuk ke pekarangan sekolah di bawah Kementerian Kelautan Perikanan tersebut.
Pagi itu tidak ada aktivitas di sana, selain sekolah itu memberlakukan lima hari kerja (Senin – Jumat), sejumlah guru termasuk humas dan kepala sekolah pada hari itu, tidak ada di kompleks. Mereka dipanggil pihak Polresta untuk memberikan keterangan atas kematian Raihan, siswa mereka yang ditemukan tak bernyawa sehari sebelumnya.
Iqbal, seorang guru SUPM yang ditemui di sana tidak mau memberi keterangan terkait penemuan jenazah Raihan di kebun warga dekat kompleks sekolah. “Saya tak bisa ngomong soal itu,” katanya, sembari memberi solusi untuk bisa komunikasi dengan Humas SUPM, Harun.
Harun yang dihubungi lewat telepon juga tak banyak memberi keterangan tentang keseharian Raihal, sebelum ditemukan tewas atau selama di SUPM Ladong. Harun hanya mengatakan kejadian itu membuat geger pihak sekolah karena sejak berdirinya sekolah bidang perikanan itu 35 tahun silam belum pernah mengalami hal seperti itu.
“Kami sangat kaget, karena tidak pernah dialami sebelumnya, baru kali ini musibah yang terjadi di SUPM,” kata Harun, Sabtu 2 Maret 2019.
Begitupun, Harun mengakui pembinaan siswa di SUPM masih tetap berlaku namun sangat tertib. Ada apel pagi, apel siang, dan apel malam bahkan apel makan –makan. Namun, kata dia, membina 600 siswa itu tidaklah mudah karena mereka memiliki karakter berbeda- beda.
Diakunya, sistem senior dan junior di kalangan siswa SUMP juga masih tetap ada, namun sistem ini biasanya berlaku pada piket. “Senior jadi komandan piketnya, junior anggota,” ujar Harun.
Terkait penanganan kasus tewasnya Raihan, Harun mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Pihak sekolah juga mengupayakan agar persolan antara sekolah dengan keluarga korban dapat diselesikan secara kekeluargaan.[] BACA: Seorang Siswa SUPM Ladong Ditemukan Tewas, Ini Kata Pihak Sekolah






