GEMA zikir menyapa indera begitu sepeda motor saya memasuki halaman Mesjid Teungku Di Anjong, Selasa petang, 2 Mei 2017. Usai memarkir kendaraan, saya lantas mencari-cari dari mana sumber suara tersebut. Ternyata berasal dari sekelompok majelis yang sedang berzikir di kompleks makam yang berada di sisi Mesjid Teungku Di Anjong, di Gampông Peulanggahan. Mesjid yang usianya sudah berabad-abad ini berada di Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Sebatang pohon seulanga yang tumbuh tak jauh dari halaman masjid, lebat dengan bunga. Menguarkan aroma semerbak yang cukup memanjakan indera. Berfungsi sebagai aroma terapi alami yang semakin menambah kenyamanan bagi jamaah.

Beranjak dari situ, di teras mesjid, ada dua kelompok anak-anak yang sedang belajar TPA. Masing-masing diasuh oleh seorang ustazah. Dua kelompok lainnya berada di dalam mesjid. Aktivitas ini berlangsung saban petang usai salat asar.

Setelah melihat-lihat sebentar, segera saya menuju ke tempat wudu yang ada di bilah kanan untuk bersuci, agar bisa segera melaksanakan salat asar. Tempat wudunya sangat nyaman, bersih, airnya mengalir deras. Khusus di bagian tempat wudu perempuan juga tersedia sebuah cermin berukuran besar.

Tak jauh dari tempat wudu ada sebuah monumen yang bertuliskan ratusan nama-nama warga Peulanggahan yang menjadi korban keganasan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Totalnya ada 435 nama.

***

Dibandingkan dengan model-model mesjid yang lazimnya kita temui di Kota Banda Aceh, bentuk bangunan dan corak mesjid ini tampak berbeda. Tidak ada kubah yang menjadi ciri khas utama sebuah mesjid. Jika dilihat dari luar, bangunan mesjid ini terdiri dari tiga tumpuk lantai yang mengerucut.

Berdasarkan catatan prasasti yang ada di kompleks mesjid, Mesjid Teungku Di Anjong ini didirikan pada abad ke-18. Nama mesjid diambil dari nama sosok ulama besar Teungku Di Anjong yang hidup pada masa kerajaan Aceh, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmudsyah, sekitar tahun 1760 hingga 1781 Masehi. Nama aslinya Al Quth Al Habib Sayyid Abu Bakar bin Husin Bilfaqih. Pentahbisan Aceh yang bergelar sebagai Serambi Mekkah tak terlepas dari peran ulama besar tersebut.

Sebelum hancur oleh tsunami pada 2004 silam, seluruh mesjid masih terbuat dari material kayu. Lantainya berupa tegel yang terbuat dari tanah, dan atapnya dari seng dengan ketebalan mencapai dua centimeter. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh ketika itu turut merenovasi mesjid bersejarah ini.

Ada 12 tiang yang menyangga masjid dengan diameter 50 centimeter. Tiang-tiang penyangga itu dulu ukurannya lebih besar. Lantainya dulu juga tidak sejajar, di bagian belakangnya lebih tinggi sekitar 50 centimeter. Jadi untuk menuju ke bagian tengah harus melewati dua anak tangga.

Seluruh jendela masjid dari lantai pertama sampai lantai ke tiga terbuat dari kayu berukuran lebar, setiap hari jendela-jendela tersebut dibiarkan terbuka sebagai jalur lalulintas udara.

Awalnya masyarakat Peulanggahan menyebut masjid ini dengan sebutan Dayah, karena di lokasi inilah dahulu Teungku Di Anjong mengajar mengaji kepada murid-muridnya dan mengajarkan manasik haji kepada seluruh jamaah dari nusantara dan semenanjung Malaya.

“Dulu para jamaah haji dari seluruh nusantara sebelum berangkat ke Mekkah belajar manasiknya di sini. Mereka menginap sampai berbulan-bulan,” kata Ustadz Antoni, Imam Rawatib Mesjid Teungku Di Anjong kepada portalsatu.com.

Ustadz muda yang lihai berbahasa Arab itu juga Direktur TPA di mesjid tersebut. “Teungku Di Anjong ini hidup pada masa yang sama dengan ulama Syiah Kuala,” katanya lagi.

Tahun 1978 status Dayah berganti menjadi mesjid yang terdiri dari tiga lantai. Masing-masing lantai memiliki filosofi sendiri. Lantai pertama disebut sebagai hakikat, lantai kedua disebut tarekat dan lantai ketiga disebut makfirat.

Letak mesjid ini persis di depan SD N 17 Peulanggahan Banda Aceh,  berada di sisi barat Krueng Aceh. Mencapai mesjid ini pun sangat mudah, karena letaknya tidak terlalu jauh dengan pusat kota, dan berada di dekat jalan lintasan utama menuju ke Gampông Jawa. Akses ke sini bisa dengan menggunakan roda empat atau kendaraan roda dua.

Nama masjid Teungku Di Anjong diberikan oleh masyarakat Peulanggahan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan terhadap ulama pendiri masjid ini. Berdiri di atas tanah seluas empat hektar, tak hanya ada bangunan masjid saja di kompleks ini, tetapi juga ada makam-makam.

Al Quth Al Habib Sayyid Abu Bakar bin Husin Bilfaqih adalah sosok ulama tasawuf dan berperan sebagai ulama fiqih yang membimbing manasik haji bagi calon jamaah haji dari seluruh wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Untuk menampung para jamaah dari berbagai negara tersebut, Teungku Di Anjong membangun semacam asrama yang dikenal dengan sebutan Rumoh Raya. Konon inilah hal ihwal ditabalkannya julukan Aceh Serambi Mekah.

Di Rumoh Raya inilah para jamaah berkumpul sebelum akhirnya mereka berangkat menuju Mekkah dengan pelayaran yang dimulai dari Krueng Aceh. Konon katanya, asal muasal Gampong Peulanggahan berasal dari kata 'persinggahan', karena daerah ini banyak dilalui atau disinggahi oleh para jamaah yang hendak melalukan ibadah haji ke tanah suci.

Sekarang, untuk mengenang Teungku Di Anjong maka setiap tanggal 14 Ramadan selalu diadakan acara Haul atau peringatan hari wafatnya ulama yang berasal dari Hadhramaut, Yaman. Menurut catatan, beliau datang ke Aceh pada tahun 1642 Masehi untuk menyebarkan dakwah Islam. Dan wafat pada tanggal 14 Ramadhan 1100 Hijirah.

Masjid ini dahulunya tak hanya berfungsi sebagai balai pengajian dan pusat peribadatan saja. Pada masa-masa sebelum kemerdekaan, majid ini dijadikan sebagai markas oleh laskar Aceh dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan dari jajahan Belanda.

Hingga sekarang aktivitas di mesjid ini tak pernah berhenti. Salah satunya adalah zikir yang dilakukan sekelompok orang di kompleks makam tadi.

“Zikir ini rutin dilakukan setiap Selasa sore. Dipimpin langsung oleh Habib Haris Al Idrus, Imam Mesjid Teungku Di Anjong,” kata Ustadz Antoni.

Majelis zikir tersebut diikuti oleh para keluarga sayid dan sejumlah mahasiswa yang diajak langsung oleh Habib Haris. “Setiap malam Jumat di sini juga ada zikir dan terbuka untuk umum, siapa saja bisa datang,” katanya.

Berkunjung ke mesjid ini tak hanya membuat kita terkenang pada peran besar ulama dari Yaman yang dikeramatkan itu, tetapi juga menyegarkan ingatan kita bahwa Islam telah menjadi nafas kehidupan masyarakat Aceh sejak berabad-abad silam.[]