Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaSejarah Peringatan Maulid...

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Hari ini, sekitar 1.400 tahun lalu, sosok bayi yang mulia lahir ke dunia. Sang Ayah, Abdullah bin Abdul Muthalib, menamai putra yang dilahirkan sang istri, Aminah, itu

Muhammad.

Lahirnya bayi yang kemudian menjadi Nabi ini merupakan momentum yang disambut penuh keceriaan oleh umat Islam sedunia. Mereka pun memperingatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara masing-masing.

Umat Islam sempat bingung mengenai hukum memperingati hari lahirnya Nabi. Pasalnya, Rasulullah maupun para sahabat tidak pernah mencontohkan peringatan ini.

Ditambah lagi, awal mula dilaksanakannya peringatan ini untuk pertama kalinya juga masih simpang siur. Bahkan ada banyak versi mengenai peringatan ini.

Naskah tertua mengenai peringatan Maulid Nabi adalah karya Jamaluddin Ibn Al Ma'mun, putra Al Ma'mun Ibn Bata'ihi, yang pernah menduduki posisi Perdana Menteri pada Dinasti Fatimiyah.

Karya tersebut dikutip oleh Al Maqrizi dalam kitabnya, Mawa'iz Al I'tibar fi Khitat Misr Wa Al Amsar. Tetapi, catatan Al Maqrizi menyebut peringatan Maulid Nabi diselenggarakan pada tanggal 13 Rabiul Awal.

Saat itu, khalifah Dinasti Fatimiyah menggelar peringatan Maulid Nabi dengan membagikan 6.000 dirham, 40 piring kue, gula-gula, caramel, madu, dan minyak wijen. Tidak ketinggalan 400 liter manisan dan 100 liter roti.

Peringatan itu kemudian selalu digelar pada tanggal 12 atau 13 Rabi'ul Awal oleh pemerintah. Biasanya diisi ceramah, pembacaan ayat suci Alquran, serta pemberian hadiah.

Saat Dinasti Fatimiyah runtuh oleh gempuran Shalahuddin Al Ayyubi, tokoh utama Dinasti Ayyubiyah yang beraliran Sunni, tetap mengadakan peringatan Maulid.

Peringatan ini dianggap sebagai wadah paling efektif dalam menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan Islam. Selain itu juga membangkitkan semangat jihad pasukan Islam.

Catatan lain menyebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga digelar pada masa Dinasti Ayyubiyah di abad 10 Masehi. Tujuannya untuk memicu semangat mencontoh pribadi Nabi.

Kala itu, kondisi umat sedang terpuruk lantaran gempuran Pasukan Salib. Semangat tempur pasukan Islam pun melemah.

Shalahuddin sebagai sultan sekaligus panglima perang menggembleng kembali semangat Pasukan Islam untuk bertempur melawan Pasukan Salib. Saat itulah Maulid Nabi dianggap sebagai tonggak kebangkitan umat Islam kala itu.

Hingga saat ini, peringatan Maulid Nabi tetap digelar di sejumlah negara. Bahkan di Irak dan Mesir, peringatan ini digelar dengan sangat meriah dalam bentuk festival.

Umat Islam di Indonesia sendiri hingga saat ini terus menggelar perayaan Maulid Nabi. Ini karena Maulid Nabi adalah momentum untuk terus meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Akhir Zaman.

Allahumma shalli 'ala Muhammad…

[] Sumber: dream.co.id

Baca juga: