TAKDIR, peraih juara satu MTQ Internasional di Turki, telah menjadi yatim sejak usianya memasuk delapan bulan dalam kandungan. Kondisi ini membuat sang bunda, Rostini Ramli, memberikannya nama Takdir Feriza. Semenjak ayahnya, Hasan Sufi, meninggal dunia Takdir sangat disayangi oleh kakeknya, almarhum Ramli Ismail. Semangat juang sang kakek lah yang selama ini diimplementasikan oleh Takdir dalam kehidupannya sekarang.
Saya dari kecil telah menjadi anak yatim, dan mengaji tersebut memang hal yang saya gemari semenjak kecil sampai sekarang. Mengaji sudah menjadi hobby bagi saya, kata alumni Tarbiyah Pendidikan Agama di UIN Ar Raniry tahun 2010 ini saat ditemui portaslatu.com di Komplek Keistimewaan Aceh pada LPTQ Dinas Syariah Aceh, Sabtu, 25 Juli 2015.
Takdir kemudian menceritakan masa kecilnya yang dihabiskan di Gampong Tungkop, Aceh Besar, pada 1994 lalu. Sedari kecil, Takdir mengakui sudah mengagumi tilawah di gampong dengan sistem tradisional. Dia pun belajar pada Tengku Muchtar dan Tengku Nasir Lamgawe di desanya. Saya suka mengaji di gampong, setelah mempelajari dasarnya pada tengku di gampong, saya pergi mengaji di Masjid Raya. Dulu namanya Hiqqah, kata pencinta traveling ini.
Sejak bergabung dengan Hiqqah, dia mulai aktif mengikuti perlombaan, baik ajang lokal, nasional dan internasional. Rata-rata perlombaan yang diikutinya selalu membawa pulang juara. Deretan prestasi telah banyak dikumpulkan Takdir. Sebelum berangkat ke Turki, dia telah membukukan juara mulai dari sejak kecil hingga saat ini.
Takdir pernah menjuarai Pekan Tilawatil Quran (PTQ) Nasional RRI di Jakarta sebanyak dua kali, Bandung sekali, dan tuan rumah Aceh satu kali. Di ketiga even tersebut, Takdir memperoleh juara tiga.
Selain itu, pada 2013 dia memperoleh harapan dua pada MTQ di Bangka Belitung perwakilan Indonesia, juara satu perwakilan Aceh MTQ Internasional antar Melayu di Malaysia, serta harapan tiga mewakili Aceh pada ajang nasional di Batam tahun 2014, lalu juara satu MTQ Internasional di Turki 2015. (Baca: Pengalaman Takdir Feriza; Dari Kesulitan Mencari Nasi Hingga Dicium oleh Presiden Turki)
Alumni MTsN dan MAN Darussalam Tungkop ini pernah bekerja sebagai honorer guru Alquran Hadis di MIN Tungkop 2010-2012. Saat ini dia tercatat sebagai tenaga honorer Kantor Camat Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Selama ini ia juga sedang mengikuti TC untuk seleksi Tilawatil Quran di Jakarta pada 8 Agustus 2015 mendatang.
Di balik itu semua, pria berusia 29 tahun ini memiliki cita-cita dan harapan yang ingin diraih di kemudian hari. Saya alangkah senangnya apabila diundang oleh masyarakat untuk mengaji di depan masyarakat di gampong, dan itu lebih dihargai dan mulia, ujar bungsu dari enam bersaudara ini.
Selain itu, Takdir juga berharap pemerintah menghargai prestasi yang diraih anak-anak bangsa yang telah mengharumkan nama Aceh. Ini bukan karena saya mendapat juara ini, melainkan anak-anak lainnya. Pemerintah turut mensupport dan memberi dukungan untuk anak-anak berprestasi yang telah membawa nama baik Aceh, baik lokal, nasional maupun internasional, ujarnya.
Takdir juga memiliki cita-cita ingin membawa ibundanya ke Tanah Suci untuk menunaikan haji bersama keluarganya. Dia juga berkeinginan menjadi hafiz 30 juz. Meski telah menoreh sejumlah prestasi, Takdir tidak lupa berterimakasih kepada seluruh teungku dan orang yang membimbingnya selama ini.
Terimakasih Ustazah Ruhamah, Abi Jailani Muhammad, Ustad Hamli Yunus, dan ustad-ustad lainnya yang sudah turut membimbing, yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Serta ke depan saya ingin berbagi pengalaman kepada anak-anak lainnya di Aceh terutama tentang tilawatil quran, kata Takdir mengakhiri perbincangan.[]

