Hampir setiap hari saya berurusan dengan semut. Biasanya ia mengerumuni gelas kopi, atau tempat lain. Kadang juga sempat menggigit kita. Setelah sekian lama, saya terpikir, ia punya kehidupan dan beberapa budaya yang baik. 

Saya memperhatikan semut-semut itu mendekati gelas kopi hanya untuk mencicipi secuil manisnya. Kadang ia tewas karena sapuan tangan atau kena air. Dan saat berpapasan sesamanya, para semut itu pun bersalaman. Saya terpikir, mengapa harus dianggap musuh. Memang ia mengganggu, namun bagaimana sebagai manusia kita mengatur supaya semut itu tidak lagi menjadi gangguan. Saya telah cari-cari data tentang itu belum menemukannya.

Sekiranya manusia untuk menjaga alam, maka ada cara menjaga hak-hak semut. Bagaimana menyediakan mananan untuk mereka tanpa mengganggu manusia lagi. Itu tingkat peradaban manusia yang tinggi.

Mari kita perhatikan apa yang pernah ditulis orang tentang semut.

Laman republika.co.id, dalam tulisan bertajuk “Ini yang Terjadi Saat Obati Diabetes dengan Semut Jepang” mengabarkan, penggunaan semut Jepang untuk mengobati diabetes sempat jadi fenomena karena dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah pengidap diabetes.

Namun dosen penyakit dalam subbagian endokrin Fakultas Kedokteran (FK) UGM, dr. R. Bowo Pramono menyampaikan, hingga saat ini belum ada bukti secara ilmiah terkait manfaat semut jepang sebagai obat diabetes.

Menurut Republika, Bowo mengemukakan, dalam terapi diabetes, pengobatan ditujukan untuk menurunkan kadar gula yang tinggi di dalam darah. Terdapat berbagai terapi yang bisa dilakukan untuk penderita diabetes, seperti terapi insulin. Bisa juga melalui pemberian obat-obatan untuk menurunkan kadar gula yang masuk dari makanan ke dalam tubuh.

Bowo menuturkan, saat mengonsumsi semut Jepang, seseorang akan mengalami rasa mual dan tidak mau makan. Dengan begitu otomatis kadar gula darah turun. “Mungkin prinsip ini yang dipahami dalam terapi semut Jepang,” papar pria yang juga menjabat sebagai Kepala SMF/KSM Penyakit Dalam RS Dr. Sardjito.

Sementara, terkait berita pasien yang ususnya rusak, hancur, serta bernanah karena konsumsi semut Jepang, Bowo mengatakan masih diperlukan penelitian secara mendalam terkait hal itu. Terdapat berbagai macam kemungkinan yang bisa menyebabkan kejadian tersebut.

“Umumnya kalau sudah terkena enzim di usus semut bisa mati. Namun, jika semutnya kuat dan tidak mati kemungkinan bisa merobek usus di sana-sini, tapi bisa juga memang ususnya sudah rusak bukan karena makan semut ini,” katanya.

Menurutnya diabetes tidak dapat disembuhkan. Tetapi bisa dikendalikan dengan terapi insulin maupun obat-obatan. Selain itu, perlu juga menjalani gaya hidup sehat. Antara lain dengan makan teratur sesuai kebutuhan, menjaga komposisi nutrisi yang seimbang, serta melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

Bowo mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan metode pengobatan herbal dalam mengobati penyakit diabetes. Bahkan harus memastikan terlebih dahulu, apakah pengobatan tersebut sudah terbukti secara ilmiah kemanfaatannya atau belum. “Silakan melakukan pengobatan herbal.  Namun, perlu diperhatikan bahwa pengobatan itu sudah teruji secara ilmiah,” tuturnya.

Tentang siaran Republika mengutip pernyataan Bowo Pramono ini, saya berpendapat bahwa orang salah memahami tentang terapi semut Jepang, termasuk orang Jepang sendiri. 

Sebenarnya, kita bisa berpikir dengan logika sederhana saja tentang ini. Semut suka manis atau zat gula. Maka kalau disebutkan semut bisa menghilangkan gula darah, itu artinya bukan dengan memakan semut itu, tapi membiarkan semut menghisap gula dalam darah. Itu seperti kita perlu telur bukan makan ayamnya. 

Jika para pakar kesehatan membaca ini, mungkin boleh membuat percobaan, bagaimana mengobati gula darah itu atau diabetes dengan membuat semut menghisapnya, baik semut Jepang, Cina, Inggris, Turki, Jawa, Sunda, atau semut Aceh sekalipun. Karena secara umum semua semut sama saja.

Sekarang, mari kita perhatikan yang disiarkan laman nahrawkabilly.wordpress.com bertajuk “Sepuluh 
Kelebihan Semut yang Jarang Dimiliki Manusia”.

1.    Peduli. Peduli dan peka terhadap segala hal yang terjadi dalam lingkungan-nya serta selalu memelihara rasa cinta kasih kepada sesama.
2.    Positif dan Antusias. Selalu antusias dalam berpikir dan bertindak demi mencapai tujuan berusaha. Namun segala pemikiran dan tindakan tersebut bersifat positif demi menjaga kelangsungan usaha.
3.    Inisiatif. Memiliki inisiatif dalam menjalankan usaha berdasarkan motivasi yang kuat untuk maju dan mencapai tujuan tanpa menunggu komando, dan tanpa menyimpang dari kebijakan perusahaan atau negara.
4.    Rendah Hati. Berusaha selalu optimis dalam setiap langkah, namun tidak sombong dan selalu menghargai serta menghormati orang lain.
5.    Kreatif dan Inovatif. Selalu kreatif dalam berusaha dengan melakukan berbagai inovasi agar dapat memenang-kan persaingan dan menjadi Leader dalam lingkungannya.
6.    Disiplin dan Bertanggung Jawab. Memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap kelangsungan hidup kegiatan usaha. Untuk itu, diperlukan disiplin yang tinggi dalam menjalankan semua peraturan/ketentuan demi mencapai tujuan.
7.    Kerjasama. Mampu menjalin kerjasama untuk menggalang kemitraan dengan semua kalangan dalam menjalankan tugas agar sukses mencapai tujuan.
8.    Produktif. Bekerja secara profesional, tekun, dan sungguh-sungguh untuk mencapai hasil yang maksimal.
9.    Komitmen dan Tabah. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap semua keputusan/peraturan dan kesepakatan yang telah ditetapkan serta bertanggung jawab melaksanakannya tanpa tawar-menawar.
10.    Komunikatif. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan menguasai tekniknya secara baik, sehingga mampu menyampaikan segala informasi yang diperlukan tanpa menimbulkan kesalah-pahaman.
Semut adalah binatang yang hemat, akan sulit membunuhnya walauun mengganggu kita di adlam rumah sekiranya kita memakai peri kebinatangan. 

Dan ini, yang disiarkan laman zilzaal.blogspot.co.id, bertajuk “Mengapa Semut Dipilih untuk Diabadikan di dalam Al-Quran?” yang disiarkan Muhammad Ismail dan Agus Purwanto, D.Sc.

Laman ini menulis, hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;
QS. Al-Naml:18

Mengapa semut dipilih untuk diabadikan di dalam Al-Quran yang diketahui sebagai mukjizat terbesar sekaligus petunjuk bagi umat manusia sampai akhir zaman? Mengapa bukan hewan lain seperti belalang, cacing, kecoa, orong-orong, atau yang lainnya? Apa kelebihan semut dibandingkan dengan hewan-hewan lain? Atau, ada apa dengan semut? Cara untuk menjawab pertanyaan ini tidak lain adalah penelitian lapangan laboratorium.

Jawabnya juga sudah dikuak oleh para ilmuwan di luar Islam. Majalah Reader Digest yang terbit pada akhir dasawarsa 1970-an pernah menguraikan panjang lebar keistimewaan semut dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya.

Pertama, komunitas semut mempunyai sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap dengan pembagian tugasnya.

Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan kolektif. Artinya, kelompok semut tertentu yang dipimpin seekor ratu semut dapat berperang dengan komunitas semut yang dipimpin oleh ratu lainnya. Hewan lain umumnya bertarung individu-individu.

Ketiga, semut mengenal sistem perbudakan. Telur sebagai harta benda utama dari pihak semut yang kalah perang akan dikuasai dan diangkut oleh pihak semut pemenang. Telur-telur ini akan dijaga sampai menetas dan bayi semut ini akan dijadikan budak-budak mereka yang menang.

Keempat, semut mengenal sistem peternakan. Pada daun pohon jambu, mangga, rambutan, atau lainnya kadang terdapat jamur putih lembut. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang menghasilkan cairan manis. Semut tahu, hewan ini malas berpindah karena itu semut membantu memindahkannya ke tempat baru jika lahan di sekitar itu telah mulai tandus dan setelah semut memerah cairannya setiap periode waktu tertentu. Sampai saat ini, belum diketahui hewan lain yang mengenal sistem perbudakan dan peternakan.

Kelima, semut mengenal sistem navigasi yang baik.

Apakah hanya itu ? Wallahu a'lam. Manusia baru menyibak rahasia dan keistimewaan semut sebanyak itu. Sifat-sifat dan keistimewaan lain harus diselidiki lebih lanjut melalui riset lapangan dan laboratorium yang terancang, terjadwal, bahkan terukur.[]

Thayeb Loh Angen