JOMBANG – Banyak orang barangkali merasa terganggu dengan semut lantaran takut digigit, terutama rangrang (semut merah yang besar). Akan tetapi, Prihandono, warga Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Jombang, Jawa Timur, justru melihat semut itu sebagai potensi bisnis.

Pria 45 tahun tersebut memelihara atau beternak rangrang untuk menghasilkan telur semut atau kroto. Tentu saja ini bisnis yang langka. Hasilnya, Prihandono meraup keuntungan jutaan rupiah. Bagaimana caranya?

Prihandono mengawali bisnis kroto dengan membuat rumah untuk semut. Rumah untuk semut-semut itu berupa botol-botol bekas air mineral. “Saya juga mesti berikan makan serta minum dengan cara teratur pada semut peliharaan ini supaya tak mati serta cepat bertelur,” ujar Prihandono, dikutip dari umkmjogja, 9 September 2017.

Menurut Prihandono, suhu tempat semut ini tinggal juga harus diperhatikan. Apabila hawa terlampau panas mesti menyemprotkan air seperti embun supaya suhu menjadi lebih dingin. “Karena apabila terlampau panas, semut dapat mati,” katanya.

Ia mengungkap, harga kroto lumayan mahal lantaran telur semut itu dibutuhkan untuk pakan burung dan permintaan masyarakat cukup tinggi. Ia memperoleh Rp150 ribu per kilogram. “Dalam satu minggu, sekurang-kurangnya saya bisa memanen kroto dua kali dari kandang semut ini. Sekali panen bisa mendapatkan tiga sampai empat kilogram,” ujar Prihandono.

Prihandono mengaku, hasil bisnis telur semut itu dirinya meraup Rp800 ribu-Rp1 juta/minggu.

Sebelum menjadi peternak rangrang, Prihandono sempat beternak kambing. Namun, harga pakan kambing selalu meroket dan kerap tidak untung sehingga ia banting setir.

Menurut dia, pengeluaran untuk pakan semut hanya sekitar Rp30 ribu/minggu yaitu untuk membeli jangkrik yang dijadikan pakan. “Dan gula untuk minum semut,” ujarnya.

Ada pula nutrisi dan obat-obatan spesifik yang umumnya dibeli Prihandono di toko, tapi harganya tergolong murah. Dibanding beternak kambing, pria ini merasakan bisnis kroto jauh lebih menguntungkan lantaran tidak memerlukan waktu serta tenaga yang banyak.

“Seluruhnya dapat dikerjakan dengan cara enjoy di sela-sela aktivitas lain,” pungkas Prihandono.[]