Jika Anda cukup jeli, Anda pasti merasakan perubahan pada bumi yang kita pijak. Yang paling terasa adalah perubahan cuaca yang ekstrem dan tak menentu. Hal lainnya, misalnya buruknya kualitas udara yang kita hirup sehari-hari, yang mampu menimbulkan gangguan kesehatan.
Fenomena ini tentu tak bisa dianggap sepele. Bila terus dibiarkan terjadi, akan terjadi penurunan pada kualitas hidup makhluk hidup yang ada di bumi. Sebab, kualitas hidup yang layak tentu ditentukan dari lingkungan yang bersih, sehat, dan terjaga.
Melihat keadaan ini, banyak pihak mengambil langkah penyelamatan untuk menjaga bumi dan kelangsungan hidup di dalamnya. Misi penyelamatan ini dimulai dengan perlahan meninggalkan sumber-sumber energi yang melepaskan karbon dioksida (CO2) ke atmosfer, contohnya batubara, minyak dan gas bumi. Sumber energi konvensional ini akan digantikan dengan sumber energi baru terbarukan (EBT) sebagai pembangkit listrik, yang dinilai lebih bersih dan tidak meninggalkan dampak buruk terhadap lingkungan.
Energi baru terbarukan itu bisa berasal dari tenaga matahari, tenaga angin, tenaga air, dan panas bumi. Sumber energi ini berpotensi memenuhi kebutuhan energi di masa kini dan masa yang akan datang, dengan memberi dampak positif dari berbagai aspek. Pertama, mengurangi pencemaran lingkungan. Kedua, sumber energinya tidak akan habis, sehingga kecukupan energi akan terjamin.
Langkah peralihan sumber energi ini dikenal pula dengan istilah “The New Energy World”. Pertanyaannya, apa dampak langsung yang akan dirasakan manusia dan makhluk hidup di bumi ini jika nantinya sumber energi bergeser ke energi baru terbarukan ini? Apa bedanya dengan sebelumnya?
Secara umum, pemanfaatan EBT ini mampu mengurangi separuh emisi karbon global dan menghindari risiko pemanasan global yang dapat membuat bumi semakin rusak. Terlebih, EBT dapat menjadi sumber energi yang berkelanjutan dan dapat diandalkan hingga masa yang akan datang. Artinya, tak ada lagi krisis energi, sebab listrik akan terus mengalir dan membantu kehidupan.
Cita-cita besar dari penggunaan sumber energi baru terbarukan tersebut sebenarnya baru bisa terwujud jika manusia bisa melakukan langkah-langkah tertentu. Yang perlu diingat, langkah itu bukan hanya perkara memperbaharui infrastruktur atau beralih ke alat-alat pendukung distribusi sumber tenaga baru. Lebih dari itu, manusia perlu melakukan langkah-langkah berikut secara cepat dan fokus sehingga bisa melihat dan merasakan dampak yang lebih besar.
Pertama, menentukan alokasi modal. Transisi ke pemanfaatan EBT mesti diiringi pula dengan perubahan dari segi ekonomi. Artinya, perlu ada peningkatan investasi pada peralatan yang dibutuhkan oleh industri ini. Industri ini memang memerlukan modal besar, namun pihak pengelola juga perlu memperhatikan bagaimana mempergunakan modal secara efisien. Dengan pemanfaatan modal yang tepat guna, perubahan menuju cita-cita yang diinginkan akan tercapai.
Kedua, mengantisipasi kebutuhan bahan bakar fosil di masa depan. Laporan Energy Transition Commission (ETC) menyebutkan bahwa gas rumah kaca masih akan menjadi bagian dari percampuran penggunaan sumber energi. Konsumsi energi global sendiri akan meningkat sebanyak 35 persen pada tahun 2035.
Peningkatan konsumsi tersebut disumbang juga oleh konsumsi dari sektor transportasi dan penerbangan. Keduanya cukup bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga energi ini masih dibutuhkan pada periode tersebut. Artinya, tingkat rata-rata efek gas rumah kaca diprediksi masih bertumbuh. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya kita mempercepat peralihan ke sumber energi baru untuk mengurangi karbon yang dihasilkan sumber energi konvensional.
Ketiga, mempercepat transisi ke energi baru terbarukan dan melakukan efisiensi. Investasi untuk pembangkit listrik dengan energi terbarukan diperkirakan bakal melampaui pembangkit berbahan bakar fosil pada tahun 2030. Energi surya dan angin disebut sebagai tenaga pembangkit listrik yang paling cepat pertumbuhannya. Lagipula, pemanfaatan energi baru ini memakan biaya yang lebih sedikit dan akan terus menurun setiap tahunnya. Dengan demikian, pertumbuhannya akan jauh lebih besar.
Melihat pertimbangan tersebut, langkah-langkah untuk beralih ke sumber energi baru terbarukan mesti dilakukan secepatnya, alias sekarang juga. Melakukannya sekarang, sama saja dengan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh penggunaan energi masa kini.
Untuk melakukan ini, penyelenggara harus fokus ke beberapa hal utama. Salah satunya, perusahaan penyedia layanan listrik harus mulai melakukan transisi dengan memanfaatkan energi terbarukan yang lebih bersih dan tak memberi dampak buruk pada lingkungan. Langkah itu mesti didukung dengan digitalisasi jaringan listrik atau grid. Tujuannya, supaya sistem jaringan lebih terintegrasi dan fleksibel terhadap solusi yang ditawarkan oleh sumber energi baru terbarukan.
Sebagai solusi, penyedia energi listrik dapat memanfaatkan teknologi EcoStruxure™ dari Schneider. EcoStruxure™ merupakan platform yang memanfaatkan Internet of Things (IoT) yang lebih fleksibel untuk terhubung dengan pembangkit yang memanfaatkan energi terbarukan. Selain itu EcoStruxureTM juga merupakan platform yang sudah terdigitalisasi ini juga akan memudahkan penanganan masalah pada aliran distribusi listrik. Komponennya terkoneksi satu sama lain dan dapat memberikan data yang akurat pada pusat sehingga langkah antisipasi dan penanganan lebih cepat.[]Sumber:kompas


