Beberapa hari lalu, 10 November 2020, peristiwa Kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) menjadi berita tak biasa. Konon, peristiwa penyambutan seperti itu pernah terjadi di era Soekarno,1949. Namun ini beda sosok dan konteksnya.
Sejauh yang penulis telusuri, tak ada motif khusus dibalik penyambutan yang menyedot perhatian tersebut (kecuali media mainstream yang berafiliasi ke rezim). Pihak internal juga tidak menyiapkan panitia khusus, ini spontan, jadi payah kita analisa. Mereka menyebut, jumlah massa mencapai sepersepuluh dari peristiwa 212. Menurut detik dengan metode google chek, mencapai 13 ribu massa di kisaran terminal 3 Bandar Soetta saja.
Sebagian kalangan menghubungkan murni pada penyambutan seremoni Kepulangan umrah, selayaknya masyarakat lain, yang disambut khalayak keluarga khususnya. Namun, kepulangan umrah ini, menjadi klimaks secara politis dan kultural, setelah kasusnya digoreng kesana kemari.
Maka kepulangan umrah HRS ini menjadi kepulangan umrah terlama, sekitar tiga tahun lebih. Inilah romansanya dan geliat politik identitas yang sering dinilai tak seimbang.
Sehingga ini seakan menjadi panggung HRS (citra Islam), sebelumnya ia diragukan akan dijemput dengan massa sebanyak itu, sebab ia bukan Imam Khumaini* , pemimpin spiritual Iran beberapa dekade lalu.
Diantara tayangan video konfirmasi media HRS dan penekanan pada orasinya dalam jeda waktu kepulangan kemarin, ada tageline, Revolusi Akhlak yang digaungkan. Walau belum dirunut bagaimana pola aksinya secara detil.
Dari poin ini tampak bahwa, HRS dan khususnya jamaah FPI masih berada dalam barisan terdepan dalam mengoreksi pemerintah untuk mewujudkan perbaikan masyarakat, Utama dari segi Akhlak dan tradisi nahi mungkar yang mereka yakini.[]
*Pegiat studi sosial dan budaya.



