LHOKSUKON – Korban rumah roboh di Dusun Cot Raboe, Gampong Matang Sijuek Timu, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara, menolak diungsikan ke meunasah (musala) atau Polindes. Alasannya, jika lokasi rumah dikosongkan di malam hari, ternak mereka akan hilang dicuri.
Hal itu disampaikan warga dalam dialog bersama Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf atau Sidom Peng, di lokasi tenda dapur umum, Selasa, 28 November 2017 sore. Turut serta dalam dialog, Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata dan Kepala Dinas Sosial Aceh Utara Jailani.
Wabup menilai, tenda darurat yang dibangun di lokasi rumah roboh masing-masing korban itu sangat tidak layah huni, apalagi untuk tidur di malam hari. Sidom Peng juga meminta Camat Baktiya Barat, Edwar untuk melakukan musyawarah bersama warga dan geuchik agar korban mau dipindahkan ke lokasi yang layak, seperti aula kantor kecamatan atau meunasah.
“Saya tinjau kelayakan tempat tinggal sementara, itu tidak layak. Untuk satu atau dua hari bisa, tapi untuk 15 hari atau lebih tidak layak, takutnya kena penyakit. Kita lihat tempat yang layak, bisa beribadah. Jika siang menggembala ternak, silahkan, tapi malam jangan di sini, rawan penyakit karena kondisi hujan,” ujar Sidom Peng kepada warga (korban) yang hadir.
Sidom Peng menganjurkan warga korban untuk mengungsi terlebih dahulu. Dia mempersilahkan masyarakat untuk kembali jika sudah ada rumah bantuan yang layak.
“Saya lihat tadi anak-anak tidur di tenda, itu tidak layak. Pemkab mengimbau pengungsi tidak layak tinggal di lokasi, apalagi di malam hari, terutama wanita dan anak-anak. Jika memang lelaki mau tinggal di rumah dengan alasan ternak, mungkin ketahanan tubuh lebih kuat. Tapi ini musim hujan, takutnya kena malaria atau penyakit lainnya, nanti malah pemerintah disalahkan,” kata Sidom Peng.
Menurut Wabup, persoalan lainnya akan muncul saat ada kunjungan dari Pemerintah provinsi atau pihak lain. Nanti dianggap Pemkab Aceh Utara tidak becus menangani persoalan tempat tinggal bagi korban bencana puting beliung. Padahal itu keinginan korban.
“Sekarang kita bisa ingat harta benda, tapi jika sudah jatuh sakit, kita tidak ingat itu lagi. Sekarang dicegah sebelum sakit. Kita akan siapkan tempat secara layak, namun keputusan kembali kepada masyarakat. Ini benar-benar musibah dan harus diterima dengan lapang dada. Tiga atau empat bulan mungkin harus bersabar, tapi semua terpulang pada geuchik dan masyarakat. Pemerintah siap mengawal apapun kebutuhan masyarakat. Jika ada yang dibutuhkan atau kurang, sampaikan agar tercover,” kata Sidom Peng.
Setelah mendengar penjelasan Wabup, warga korban rumah roboh tetap menolak untuk dipindahkan. Mereka meminta Pemkab membangun rumah sementara di dekat lokasi rumah yang roboh.
“Kita maunya Pemkab membangun rumah sementara di tempat masing-masing, jangan pindah ke meunasah, apalagi aula kecamatan. Itu merepotkan kami untuk bolak-balik ke rumah. Kami punya ternak yang harus dijaga, terutama di malam hari agar tidak dicuri. Itu bukan hanya ternak pribadi, tapi punya orang yang kami gembalakan dengan sistem bagi hasil,” kata Erwin, Kadus Cot Raboe yang juga salah satu korban rumah roboh.
Hal senada diutarakan Basyariah, 65 tahun, korban rumah roboh lainnya. “Kamoe bek neupinah, di sinoe mantong. Han ek tabet-bet barang, hek that, jioh lom. Bah di sinoe mantong, dang-dang dibangun laen (Kami jangan dipindahkan, di sini saja. Tidak sanggup angkat-angkat barang, capek sekali, jauh lagi. Biar di sini saja, sambil menunggu dibangun lain),” ucap wanita tua itu.
Ketika Sidom Peng mengatakan, “Nanti sakit, soalnya hujan terus.” Basyariah menjawab, “Nyan tapuwoe bak Allah (Itu kita kembalikan lagi kepada Allah)”.
“Kita (Pemkab) menawarkan pindah ke meunasah, tapi apabila korban permintaannya tempat tinggal darurat saja, maka kita siapkan. Namun lebih baik musyawarah dulu, nanti keputusan bantu di kita. Jangan sampai ada imbas kesalahan di pemerintah, tempat tinggal tidak layak. Karena hasil keputusan korban rumah roboh sudah bulat, maka akan kita bantu. InshaAllah, dalam dua hari ini. Untuk permintaan rumah permanen, itu langsung ditangani Pemprov. Namun tidak tercover langsung, mungkin butuh waktu beberapa bulan,” ujar Sidom Peng.
Di lokasi yang sama, Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata mengatakan, “Jangan takut barang hilang, di lokasi ada keamanan dari Polsek dan Koramil. Sekarang ini orang lebih diprioritaskan dari pada kambing.” []



