TAKENGON – Ketua Organda Aceh Tengah, Akmal, tak memungkiri jika sikap kernet dan sopir turut memicu pelemparan bus di Aceh. Dia menduga pelemparan bus itu bermula dari sopir yang ugal-ugalan sehingga 'mengesampingkan' keselamatan pengendara lain.
“Kalau malam bus itu kencang-kencang kali larinya, sehingga kadang-kadang pengendara roda dua terancam keselamatannya saat mengendarai sepeda motor di jalan raya,” katanya kepada portalsatu.com di Takengon, Rabu, 6 Januari 2016.
Di samping itu, katanya, perangai kernet juga sangat mempengaruhi aksi pelemparan bus yang marak terjadi saat ini. Tak jarang ada kondektur mengeluarkan kata-kata tak sedap kala penumpang kekurangan ongkos.
“Jadi kernet juga harus menjaga sikap sopan santunnya terhadap penumpang,” ujarnya.
Namun Akmal mengatakan hingga sekarang belum ada armada bus yang beroperasi di wilayah Tengah Aceh yang dilempar. Insiden tersebut kerap terjadi di sepanjang jalan Medan-Banda Aceh.
“Bus di kita sekarang sekitar 15 unit dan L-300 sekitar 100 unit. Alhamdulillah belum ada yang menjadi korban, dan di wilayah Tengah Aceh syukur juga tidak ada aksi pelemparan seperti itu,” katanya.
Organda Aceh Tengah secara rutin mengimbau agar kernet dan sopir bus untuk bersikap ramah dan tidak ugal-ugalan selama perjalanan. Hal ini dilakukan demi menghindari sikap anarkis penduduk di sepanjang lintasan jalan, termasuk melempar moda transportasi umum.
“Ini demi keselamatan kita semua,” ujar Akmal.[](bna)

