BANDA ACEH – Puluhan warga dan mahasiswa yang tergabung dalam Solidarity for Rohingya meminta seluruh lembaga internasional untuk melakukan tindakan konkret terkait kekerasan yang dialami etnis Rohingya di Myanmar. Demikian salah satu poin tuntutan Solidarity for Rohingya saat melakukan aksi teatrikal di Banda Aceh, Kamis, 7 September 2017.
“PBB, OKI, ASEAN dan lembaga internasional lainnya untuk dapat melakukan tindakan konkret dalam menangani masalah genosida etnis Rohingya,” ujar Koordinator Aksi, Tuanku Muhammad.
Dia mengatakan, selama ini etnis Rohingya menerima perlakuan yang tidak manusiawi dari Pemerintah Myanmar. Mereka ditindas dan bahkan ada yang korban jiwa. Dalam kurun waktu tiga hari, ratusan warga Rohingya Myanmar menjadi korban kekerasan. Sementara puluhan ribu lainnya telah mengungsi ke berbagai negara tetangga.
“Tragedi-tragedi ini terus-menerus menimpa mereka tanpa ada upaya untuk menghentikan kekerasan tersebut. Pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, pembakaran, penganiayaan, dan aksi genosida lainnya sudah menjadi kejadian rutin setiap waktu di sana,” katanya lagi.
Dalam orasinya, Solidarity for Rohingya menyampaikan beberapa poin tuntutan mereka terkait kekejaman militer Myanmar tersebut. Pertama, mereka meminta para pihak untuk menghentikan pembantaian terhadap etnis Rohingya.
Selanjutnya, mereka juga meminta Myanmar memulihkan hak kewarganegaraan etnis Rohingya, menuntut pelaku kejahatan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya agar diadili di Mahkamah Internasional atas dasar pelanggaran HAM berat. Myanmar juga diminta untuk memberikan fasilitas kehidupan dan martabat yang layak untuk etnis Rohingya.
Poin selanjutnya, Solidarity for Rohingya meminta PBB, OKI, ASEAN, dan lembaga internasional lainnya untuk dapat melakukan tindakan konkret dalam menangani masalah genosida etnis Rohingya, serta mengharapkan isu Rohingya menjadi isu internasional yang harus mendapat perhatian dari seluruh umat manusia di dunia.
Sebelum membacakan tuntutan, para peserta aksi melakukan orasi serta dilanjutkan dengan aksi teatrikal yang menceritakan tentang pembantaian para pengungsi Rohingya oleh Pemerintah Myanmar. Selain itu mereka juga membawa beberapa spanduk yang di antaranya berisi “Stop Genocide Muslim Rohingya”.[] (*sar)



