BANDA ACEH – Usai mengunjungi pembangkit listrik di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, perwakilan mahasiswa dari seluruh BEM di Aceh menemukan sejumlah persoalan yang menyebabkan hingga saat ini Aceh masih krisis listrik.

Sejumlah solusi meliputi solusi jangka pendek dan jangka panjang disampaikan kepada pemerintah dan lembaga terkait, dengan harapan kondisi ini bisa segera diatasi sehingga masyarakat tidak dirugikan.

Melalui keterangan tertulis yang diterima portalsatu.com, Selasa, 3 Mei 2016, para mahasiswa memaparkan, untuk solusi jangka pendek PLN Wilayah Aceh harus mengoptimalkan pembangkit listrik tenaga diesel sebagai cadangan listrik di Aceh.

Perusahaan milik negara itu juga diminta jujur dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi kelistrikan di Aceh. Dan membenahi jaringan listrik dari gangguan-gangguan yang ada. PLN juga diminta meningkatkan kualitas pelayanannya.

“Jangan hanya ketika masyarakat telat membayar langsung diputuskan sambungan listriknya, tetapi ketika ada kesalahan pada PLN tidak ada sanksi apapun kepada lembaga itu,” kata salah seorang mahasiswa yang ikut dalam kunjungan itu, Muslim El Yamani.

Pemerintah Aceh juga diminta turut andil dalam menyelesaikan kontrak antara PT. Arun dengan PT. PLN sehingga penambahan daya di PLTMG Arun bisa terealisasi secepatnya. Pemerintah juga diminta serius membantu pembangunan pembangkit listrik PLTA Peusangan di Aceh Tengah.

“Masyarkat harus bekerjasama dalam membangun dan membenahi pembangunan pembangkit listrik di Aceh. Pemerintah Aceh harus menjamin keamanan dan kenyamanan serta meyakinkan investor untuk menanamkan modalnya di Aceh, khususnya di bidang kelistrikan. Misalnya dengan tidak mempersulit izin masuk untuk keuntungan pribadi, menjaga kestabilan di pemerintahan, tidak terjadi lagi konflik antar pimpinan pemerintahan.”

Pemerintah juga diminta lebih giat lagi dalam menjemput investor untuk masuk ke Aceh. Terutama di bidang kelistrikan yang dibarengi dengan upaya-upaya ekonomi lainnya. “Karena jika listrik cukup atau melebihi tetapi tidak ada industri yang besar juga tidak mungkin, karena tidak ada yang menyerap daya listrik yang besar tersebut dan ujung-ujungnya diserahkan ke Medan lagi.”

Sedangkan untuk solusi jangka panjang, pemerintah diminta segera membangun pembangkit SUTET di wilayah barat selatan dan tengah tenggara Aceh. Sehingga jaringannya tidak lagi sistem topologi radial.

Usulan lainnya berupa pengadaan pembangkit listrik dengan memanfaatkan sumber daya alam terbarukan di Aceh.  Mencetak SDM lokal yang andal di berbagai bidang khususnya kelistrikan, seperti menyediakan beasiswa dan fasilitas pendidikan lainnya di bidang terkait.

“Pemerintah harus mewujudkan PLN Aceh yang mandiri, tidak bergantung lagi pada Sumut, serta menjamin kualitas pembangkit listrik yang ada di Aceh. Dan harus mendatangkan investor baru di bidang kelistrikan di Aceh,” katanya.[](ihn)