JAKARTA – Punya anak kuliah di luar negeri tentu membuat orangtua bangga. Namun jika memilih negara yang rawan seperti India?
“Awalnya, orangtua saya enggak mengizinkan. Gambaran akan brutalnya kehidupan di India yang terlihat dari berbagai film membuat orangtua saya khawatir. Apalagi yang mereka lepas anak perempuan,” kata salah satu mahasiswa Indonesia di India, Rahimaty Isma, dalam perbincangan dengan Okezone, belum lama ini.
Ami, demikian dia biasa disapa bercerita, kedua orangtuanya sempat mempertanyakan pilihannya bersekolah di India. “Kenapa enggak di Australia atau Malaysia yang relatif aman? Tapi ini malah ke India yang ada konflik,” imbuhnya.
Dengan baik-baik, Ami pun menjelaskan alasannya memilih India sebagai destinasi studi. Sebagai bekal, Ami juga mempelajari situasi India yang dikenal rawan dan sering berkonflik serta bagaimana langkah-langkah menghadapinya.
Keinginan keras Ami mematahkan kekhawatiran kedua orangtuanya. Apalagi, dia bertolak ke India berbekal beasiswa.
“Saya juga jelaskan ke orangtua, bagaimana perjuangan saya mendapatkan beasiswa itu. Mereka menyadari, kalau saya sekolah di luar negeri pakai biaya sendiri pun tidak memungkinkan karena pasti mahal. Akhirnya saya diizinkan pergi kuliah di India,” paparnya.
Gadis asal Aceh itu memilih India karena negara tersebut menawarkan pendidikan yang dicarinya. Ketika menempuh S-1 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Ami belajar di jurusan pendidikan bahasa Inggris. Di jenjang S-2, dia ingin memperdalam ilmu pendidikan. Osmania University di Hyderabad, India, pun menjadi almamater pilihannya.
“Di Eropa, misalnya, tidak ada jurusan pendidikan yang lebih spesialis. Kebetulan di India ada. Jadi saya mantap kuliah di sini,” jelasnya.
Selain itu, alasan lain gadis berkerudung itu memilih India adalah biaya kuliahnya yang relatif murah namun dengan kualitas pendidikan yang tidak perlu disangsikan lagi. Dia menyebut, studi S-1 di India hanya butuh sekira Rp11 juta per tahun.
Ami baru saja menyelesaikan studinya di Institute of Advanced Study in Education (IASE) Osmania University. Namun dia tidak berpuas diri dan berencana kembali ke bangku kampus untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral.
“Setelah ini saya mau coba mencari kerja dulu, seperti kalau ada lowongan untuk PNS saya akan coba. Tapi jika belum, saya mau lanjut lagi ke S-3,” tambahnya.[] Sumber: okezone.com




