BANDA ACEH – Para pimpinan Suara Rakyat Aceh (SURA) dari seluruh kabupaten kota di Aceh akan menggelar duek pakat jelang peringatan damai 15 Agustus mendatang. 

“Duek pakat ini untuk membahas proses jalannya damai di Aceh. Sekaligus doa bersama untuk para syuhada Aceh yang meninggal dalam konflik. Mengingat kembali apa yang disahkan dalam MoU Helsinki, apa yang diberikan dalam UUPA, serta apa yang direalisasikan saat ini,” kata Juru Bicara DPP SURA, Murdani Abdullah, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Selasa, 8 Agustus 2017.

SURA, kata Murdani, juga ingin mengevaluasi jalannya damai Aceh. Mereka juga akan menentukan sikap terkait kebijakan Pemerintah Pusat yang sering merugikan Aceh. 

“Apakah ada langkah tegas yang kita ambil atau bagaimana. Jawabannya kita kembalikan ke para pimpinan dan teungku-teungku dayah yang hadir dalam pertemuan ini,” ujar Murdani.

Duek pakat ini, kata Murdani, rencananya akan berlangsung di salah satu dayah di Aceh. Namun dia belum bisa memastikan lamanya waktu kegiatan tersebut. 

Di sisi lain, pertemuan ini juga turut membahas soal harapan para ulama kharismatik Aceh, terkait kondisi Aceh saat ini. Apalagi menurut Murdani rapat tersebut merupakan permintaan dari para ulama kharimatik Aceh yang menjadi penasehat di SURA.

“Termasuk soal sikap SURA di pilkada 2018 dan Pileg 2019. SURA memang bukan partai dan tak akan menjadi partai. Namun hasil duek pakat ini akan menjadi rujukan bagi para anggota, mantan tentara GAM dan sipil GAM, teungku serta santri dayah, yang kini tergabung dalam SURA untuk menentukan sikap kedepan,”ujarnya.

Sebagaimana diketahui, SURA merupakan salah satu lembaga yang berafiliasi dengan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM saat Aceh masih berkonflik. Namun lembaga ini vakum usai perdamaian. Pada 2017 lalu, atas permintaan para teungku dayah, aktivis SURA kembali berkumpul dan mendukung calon yang diusung Partai Aceh.

Anggota SURA saat ini terdiri dari para alumni Dayah Tanoh Mirah, santri dayah, masyarakat biasa, mantan tentara GAM yang tak bergabung dalam partai politik, mantan pengurus PNA, serta eks aktivis mahasiswa. []