MANUSIA sebagai hamba Allah dan hikmah di ciptakannya hanya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt. Implementasi ibadah itu bukan hanya dengan shalat, puasa dan sejenisnya namun banyak jalan menuju surga. Salah satu yang paling ringan adalah bertafakkur.

Seseorang yang bertafakkur bertujuan agar keimanan kita meningkat. Agar mengingatkan kita kepada keagungan sang Khalik dan untuk selanjutnya memberikan dorongan kita berbuat kebaikan dan bahkan meningkatkannya. Disaat dalam kondisi lemah iman, ada baiknya untuk kita bertafakkur (merenung). Merenung atau tafakkur tentang banyak hal yang bisa membuat kesadaran kita, keimanan kita dan semangat kita hadir kembali. Banyak sekaki objek atau materi yang bisa direnungi. Namun secara umum pada kesempatan kali ini akan di paparkan dua objek atau materi tafakkur.
Pertama, tafakkur terhadap ayatullah almaqru’ah atau al-Quran. Kedua, Tafakkur ayatullah almasyhudah atau alam yang biasa juga disebut dengan ayat kauniyah. (Ahmad Yani, Tafakkur: Mata Air Kehidupan Jiwa, 2011)

Objek pertama dengan bertafakkur tentang makna Al-Quran atau dalam bahasa lain biasa juga disebut dengan tadabbur. Banyak firman Allah menegur siapa yang tidak pernah melakukan tadabbur (merenungi) qalam-Nya, salah satunya sebagaiman disebutkan dalam surat An-Nisa: “Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’: 82).

Seseorang yang bertafakkur (merenung)tentang banyak hal yang bisa membuat kesadaran kita, keimanan kita dan semangat kita hadir kembali juga sebagaimana di ungkapkan dalam firman-Nya:”Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 4)

Prosesi dan hasil Tadabbur mampu menghanyutkan sang pentadabbur dan menerobos kerikil dan jurang hati yang telah berantakan dan ternoda oleh dosa menuju ke arah revolusi dan manajemen qalbu yang fitrah (suci). Ekses tadabbur mampu melahirkan singasana qalbu kembali menjadi khusyu’, mutmainnah (tenang dan tentram). Destinasi akhir dari tafakkur dan tadabbur ini bertujuan agar keimanan kita meningkat.

Sedangkan Objek tafakkur yang kedua adalah berupa alam atau ayat kauniyah. Terlebih kondisi sekarang dengan “demam” pilkada, sehingga sebagian saudara kita terbawa oleh hawa nafsu dan keegoisme sehingga menabrak dinding hukum Allah dan Rasul plus hukum ulil amri ( pemerintah) sendiri yang telah di rancang secara khusus. Berbagai fenomena dan sepak terjang kita juga menjadi sebuah renungan dengan mensikronisasi dengan ayat-ayat qauniah yang tidak tertulis.

Dengan seringkali mengangkat fenomena ayat kauniyah, untuk membantu dan mendorong manusia agar bertafakkut dan merenung, muaranya sakan lahir rasa dan keyakinan tentang keagungan  dalam dirinya. Dikala itu rasa itu telah terpatri dalam relung qalbu yang dalam, kita sandarkan dengan diri kita yang di lemuri dosa dan noda disertai untaian air mata penyesalan.

Air mata inilah sebagai penebus api neraka dan pada akhirnya lahir perasaan takut kepada-NYA. Akan lahir perasaan betapa lemahnya seorang manusia. Hal ini sebagaiman di gambarkan dalam surat Adz-Dzariyat, berbunyi:”Dan di muka bumi ada tanda-tanda (kekuasaan bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak berfikir (merenungi).” (QS. Adz Dzariyat: 20-21)

Dalam ayat lain bahkan Allah juga menegur terhadap hamba-Nya yang tidak bertafakkur siapa yang tidak pernah berupaya untuk merenungi kekuasaan-NYA di alam semesta. Bunyi teguran tersebut yaitu:”Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.”(Yusuf: 105)

Objektifitas tafakkur sebagiman yang telah di jelaskan diatas adalah makhluk baik manusia dan alam sekitarnya. Pernyataan ini di perkuat dalam sebuah hadist disebutkan ” Berpikirlah kepada Ciptaan Allah dan janganlah berpikir kepada zat Allah”. Tafakur (berpikir) menjadi kata kunci dalam hadist diatas. Bahkan disebutkan juga berpikir (tafakkur) itu lebih baik dari pada ibadah bahkan dalam durasi yang lama. Sebagiman di sebutkan dalam zebuah hadist “Bertafakur sesaat lebih baik daripada beribadah setahun.”

Dalam interpretasi hadist diatas, tafakkur yang dimaksudkan bukan asal namanya tafakkur, indikator tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun adalah bahwa manusia, ketika bertafakur sesaat secara benar dan produktif, dapat menguatkan dasar-dasar keimanannya sehingga cahaya makrifat dalam dirinya muncul dan cinta Ilahi dalam hatinya bersinar. Dengan begitu, dia sampai kepada kerinduan spiritual dan terbang di angkasanya menuju mardhatillah.

Dalam bahasa sufi tafakkur tersebut sering juga disebut muraqabah, baik murqabah mutlak, muraqabah af'al hingga muraqbah ma'iyah. Sungguh rahman dan rahim-Nya dalam memperhatikan manusia tidak sebanding kasih sayang manusia sesamanya saling membunuh, menindas dan sejenisnya bahkan dengan alam sekitarpun mereka merebut” keperawanan” alam, hutan mereka eksploitasinya dengan berbagai alasan. Sungguh kejamnya sang manusia. Tahta, wanita dan harta kerap menjadi bumerang dan racun yang mematikan untuk sang cucu Adam dan Hawa.

Marilah kita bertafakkur untuk menemukan jati diri yang sebenarnya menjadi 'abdun' hingga mendapatkan prediket “Insan Kamil” menuju ke sa'adah ad-darini (kebahagian negeri dunia dan akhirat).[]

*Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, dan Jamaah Tarekat Naqsyabandiah Aceh