NIBONG – Untuk pertama sekali Muspika Nibong, Aceh Utara, start pawai takbiran dari kawasan pedalaman pada malam kemenangan, hari raya Idul Fitri, Kamis, 14 Juni 2018, malam. Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan penuh kebersamaan.

Sembari mengagungkan kebesaran Allah lewat takbir, Fauzi Saputra, S.IP., Camat Nibong, berinisiatif agar kegiatan ini diawali dari pedalaman demi terciptanya semangat kebersamaan.

Hal ini dianggap penting karena masyarakat pedalaman yang pada masa konflik Aceh terkesan “terasing” dan menyandang “lebel” kawasan rawan keamanan, kini mesti kembali bangkit mengejar ketertinggalan. “Saya sangat bersyukur atas kekompakan masyarakat yang mengikuti berbagai persiapan berjalannya takbir, berbondong-bondong iringan armada dari pesisir yang menuju ke pedalaman,” ujar Fauzi Saputra.

Ribuan orang berkumpul di Gampong Alue Ngom, Nibong, untuk menunggu pelepasan rombongan pawai. Di sepanjang jalan juga tidak sedikit masyarakat yang ikut bergabung dalam iringan pawai takbiran itu.

Azhar (38), salah seorang tokoh masyarakat Gampong Alue Ie Mirah, Nibong, mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, acara pelepasan pawai di pedalaman belum pernah dilakukan sebelumnya. “Kami merasa kembali diperhatikan oleh saudara kami di utara. Sebelumnya kami serasa anak tiri yang jauh dari perhatian pemerintah. Alhamdulillah dengan semangat muda tokoh Muspika yang baru ini mampu membuka kembali komunikasi yang lama terputus,” katanya.

Keseriusan juga terlihat dari aparat keamanan di bawah komando Ipda Faisal Saputra, Kapolsek Nibong, yang jauh-jauh hari sudah melakukan pantauan rute dan pengamanan hingga suksesnya acara ini.

“Alhamdulillah hasil musyawarah, takbiran tahun ini di mulai dari gampong di pedalaman. Kami pihak kepolisian siap melaksanakan pengamanan pawai takbiran. Apalagi tahun ini kita mulai dari Alue Ngom. Kami juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini berjalan aman dan lancer,” ujar Kapolsek Nibong itu.

Gema takbir mewarnai suasana di Nibong di malam kemenangan itu. Mulai dari remaja masjid sampai orang tua bergerak beriringan di kawasan yang pada masa lalu menyimpan jejak kegemilangan Islam. Jalan-jalan yang dilalui pawai takbir kali ini berada di jalur kuno Krueng (Sungai) Pasai. Tempat di mana tokoh-tokoh penting Bandar Sumatra (Samudra Pasai) bersemayam. Secara tidak langsung pawai ini juga adalah tapak tilas hubungan hulu-hilir (pedalaman-pesisir) Bandar Sumatra.

“Kita yang mengecap manisnya iman dan Islam hari ini, yang dapat menggemakan takbir malam ini, tidak lain adalah buah manis dari perjuangan indatu kita yang menancapkan Islam sebagai landasan dalam meniti hidup”.

“Untuk itu sudah selayaknya kita melanjutkan warisan indatu kita dengan menjalin silaturahmi ke semua lapisan masyarakat agar terciptanya masyarakat yang madani. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha ilallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd”.[]

Penulis: Abel Pasai