LHOKSUKON – Pasangan suami istri lanjut usia, M. Husen, 83 tahun, dan Juairiah hanya tinggal berdua di gubuk reyot yang berada di Gampong Blang, Kemukiman Matang Ubi, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Gubuk berdinding batang pohon rumbia bercampur tepas itu berukuran 6 x 1,5 meter, berlantai tanah, dan beratap rumbia.

Satu ruang tanpa sekat itu menjadi ruang serba guna, ada tempat tidur, lemari kecil, rak piring beserta sebuah kompor gas yang katanya jarang digunakan, bahkan nyaris tak tersentuh.

Gubuk tersebut baru dibangun pada Rabu, 22 November 2017. Sebelumnya, mereka juga tinggal di gubuk yang nyaris serupa. Namun, telah roboh pada Senin, 20 November 2017 karena tiang penyangga yang terbuat dari bambu sudah lapuk dimakan usia.

Saat portalsatu.com/ menyambangi rumah M. Husen, Kamis, 23 November 2017 siang, di depan gubuk hanya ada istrinya, Juairiah. Nenek bertubuh ringkih itu sedang mengumpulkan kayu bakar untuk memasak air. Sementara suaminya, kata Juairiah, sedang mencari air bersih ke gampong tetangga.

Nyoe teungoh lôn neuk tagun ie. Di sinoe ie mon hana gèt, biasajih lôn cok ie keu magun bak pèt ureung di keu rumoh. Tapi ka trép hana udép ie pèt. Lôn magun ngen kayèe, kompor gah na, tapi hana pèng tabloe gah (Ini saya hendak memasak air. Di sini air sumur tidak bagus, biasanya saya ambil air untuk masak pada kran air PDAM milik tetangga depan rumah. Tapi sudah lama tidak hidup air PDAM. Saya memasak menggunakan kayu bakar, kompor gas ada, tapi tak punya uang untuk beli gas),” ujar Juairiah.

Tak lama berselang, seorang lelaki tua tiba dengan sepeda dayung ontelnya. Di setang sepeda tergantung sebuah jeriken kecil berisi air bersih. Dia adalah M. Husen, suami Juairiah.

Beu raya bacut neumeusu, hana that pah lé geudeunge sabab ka tuha (Yang besar sedikit suara Anda, tidak begitu bagus lagi pendengarannya karena sudah tua),” ucap Juairiah saat melihat portalsatu.com/ menyapa suaminya.

Sambil menenteng jeriken berisi air, kakek itu berjalan ke dalam gubuk. Kemudian dia kembali keluar dan duduk di kursi panjang yang ada di depan gubuknya. Tak lama berselang, M. Husen pergi ke lahan sawit milik warga di samping rumahnya. Seraya duduk, ia mengambil sebuah bambu yang telah dipotong, lalu merakitnya dengan daun rumbia untuk dijadikan atap gubuk.

Nyoe lampôh gop. Ôn meuria nyoe pih ata gop. Kamoe peugöt enteuk bagi hasé, daripada tabloe, meuh'ai, panè na pèng (Ini kebun orang. Daun rumbia ini juga punya orang. Kami buat nanti bagi hasil, daripada beli mahal, mana ada uang),” kata Juairiah lagi.

Aneuk lôn na limong, tapi hana lé sajan. Bandum ka jimeukawén. Kamoe di sinoe tinggai ka rap 20 thôn. Awai tinggai numpang bak tanoh gop, tapi jiôh, sengue that. Nyoe ka tanoh droe, ata ureung chiek (Anak saya ada lima, tapi tidak lagi tinggal di sini. Semua sudah menikah. Kami di sini tinggal hampir 20 tahun. Dahulu tinggal di tanah orang, tapi jauh, sepi sekali. Ini sudah tanah sendiri, warisan orang tua),” ucap Juairiah.

Juairiah melanjutkan, gubuk lamanya sudah roboh. “Rumoh awai ka reubah keudroeih. Rumoh ka tuha, asai ujeun sabé boco (Rumah lama sudah roboh sendiri. Rumah sudah tua, setiap hujan selalu bocor),” ungkapnya.

Meunyoe tapeugah harapan, pue taneuk peugah teuman. Tameulakèe beu na bantuan dari pemerintah. Tameulakèe beu na rumoh saboh nyang bubông hana boco lé. Nyan sagai (Jika berharap, apa yang ingin saya bilang. Saya cuma harap ada bantuan dari pemerintah. Saya berharap ada rumah satu yang atapnya tidak bocor lagi. Itu saja),” pungkas Juairiah, didampingi suaminya M. Husen.[] (*sar)