Oleh Indra Pratama

Sikap seenaknya bagaikan berkendara tanpa memakai kaca spion. Hal ini sangatlah lumrah dilakukan oleh setiap orang pada setiap keputusan yang dikeluarkan, keputusan yang dikeluarkanpun biasanya dari atasan untuk para anggota yang bekerja untuk tujuan kerja, kerja dan kerja. Kepala desa misalnya, kepala desa bekerja di sebuah lembaga pemerintahan yang di dalamnya terdapat para pengurus, pengurus yaitu mereka yang siap menjalankan setiap visi dan misi oleh atasannya.

Keluarnya sebuah keputusan ada yang semata hanya dari keinginan pemimpin itu sendiri, bahkan ada keputusan itu keluar dari oknum yang bekerja di balik layar yang merupakan orang yang sangat berpengaruh pada posisi pemimpin itu sendiri. Khalayak awam mestinya tidak mudah mengambil inisiatif untuk menduga hanya pada satu sisi saja, bangsa ini mestinya harus mengambil setiap hikmah atas keluarnya kasus-kasus di lembaga-lembaga pemerintahan maupun di lembaga badan usaha.

Setiap orang bisa berbuat baik, namun tempat dia meletakkan kebaikannya itu perlu dipertanyakan. Apakah perbuatannya itu dilakukan semata untuk bangsa yang ditanganinya, atau untuk hal polemik lain. Polemik kasus arcandra tahar ini yang merupakan menteri ESDM yang dilantik bapak jokowi pada 27 juli 2016 lalu dan diberhentikan pada 16 Agustus 2016 tepat 20 hari harusnya dikritisi secara detail, di kalangan otoritas biasanya melihat mulai dari siapa dia, asal mana, bagian apa, prestasinya apa dan apa keandalannya.

Aturan adalah aturan yang yang di dalamnya terdapat hal yang kritis. Ketelitian dalam mengkritisi setiap pandangan dari sudut manapun haruslah diperhatikan dampaknya. Dampak dari keputusan yang seenaknya sangat sederhana, memang sederhana tapi sangatlah fatal bila terdapat kecolongan status yang dipegang.

Para pemegang otoritas harusnya menghindari yang namanya kekesalan masyarakat yang dapat memicu kecemburuan pada masyarakat. Masyarakat yang baik pasti menerima dengan wajar dan memaklumi bahwa setiap manusia pasti melakukan kekhilafan walaupun setitik goresan tinta di kertas putih. Warga negara yang  baik pastinya mengambil setiap hikmah dari setiap kejadian yang ditemui.

Kejadian seperti kasus Arcandra ini harusnya setiap pemimpin mengambil hikmahnya saja bahwa ini adalah tamparan halus untuk para pemegang otoritas, dan untuk warga negara Indonesia hikmah yang dapat diambil adalah bahwa setiap tindakan haruslah dilakukan secara teliti dengan mengkritisi atas apa yang dilakukan.

Teliti dan kritis ini sangat besar pengaruhnya pada perubahan baik dan mengarah pada peningkatan kualitas diiriri yang tumbuh dari karakter yang ditanam sejak dini. Andaikan 5 % saja untuk target setahun ke dapan warga negara Indonesia sebagai pelopor positif yang terdiri dari lima pulau besar di indonesia yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya untuk penetralisir berita yang berbau kegaduhan. Pastinya sedikit-lebih sedikit tumbuhlah karakter jiwa nasionalisme pada bangsa yang  berkualitas diri warga negara Indonesia meningkat. Harapannya dengan kemerdekaan RI yang ke-71 ini, setiap orang bergerak untuk perubahan bangsa yang berkemajuan yang tidak hanya apatis melihat mereka yang menari dan bernyanyi yang mengatur aparatur Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]

*Mahasiswa PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Kerja Sama PROGRAM PPGT Angkatan Kedua Dinas Pendidikan Daerah Aceh Singkil dengan DIKTI.