ABU Bakar Ash-shindiq terkejut menyadari bahwa sesungguhnya sedang terjadi sesuatu. “Jangan menangis dan jangan takut, ya Abu Bakr, Allah beserta kita,” desis Rasulullah SAW kepada Abu Bakr Shiddiq, karena di luar memang terdengar jelas suara pijakan tapak kaki para pelacak Quraisy. “Tidak,” jawab Abu Bakr, dengan berdesis pula “ular sedang menggigit kakiku.”

“Masya Allah,” ujar Rasulullah SAW – dan karena bahaya di luar barusan berlalu pula, sepeninggal pasukan pelacak yang menganggap bahwa di Tsur sudah tidak ada lagi Nabi Muhammad SAW, padahal sesungguhnya, peristiwa ular menggigit tapak kaki Abu Bakr ini, dan sergapan orang-orang kafir di mulut Gua Tsur yang menegangkan itu berlangsung dalam waktu yang bersamaan, hanya ditabiri oleh selaput ‘cinta’. Namun sangat luar biasa dari para burung dara, laba-laba, dan Sang Sahabat Abu Bakr Shiddiq itu sendiri, yang dengan begitu sempurna tertuju pada Sang Kekasih Allah Ta’ala, dan yang karena itu Allah berkenan mengulurkan Iradat-Nya.

Kemudian Rasulullah menarik kaki Abu Bakr, dan terlihatlah seekor ular dengan sinar mata yang sayu, berkaca-kaca menatap wajah beliau dengan penuh kecintaan, dan rindu. Rasulullah menginterograsi ular tersebut, “Tahukah kamu, jangankan daging ataupun kulit Abu Bakr, bulu-bulunya pun haram untuk kamu patuk”.

Sang ularpun menjawab “Tahu! Bahkan karena aku tahu juga, setelah Allah menitahkan: Barang siapa memandang wajah kekasih-Ku Muhammad dengan penuh kecintaan, maka akan Ku tempatkan dia di surga, akupun bermohon kepada Allah Ta’ala agar diberi keberuntungan dengan sempat mengalami hal seperti itu. Allah Ta’ala berkenan, dan menitahkan aku untuk menunggumu di sini.”

Sudah ribuan tahun aku menunggu di sini, dan amat merindukanmu wahai kKekasih Allah, begitu tiba saatnya aku menjumpaimu, kaki Abu Bakr menghalangiku, maka kupatuklah agar menyisih jangan menutupi mata kerinduanku padamu ya Rasulallah”.

Ularpun menangis dan Rasulullah terharu seraya makin mengedepankan wajah hadirat beliau, sambil mengatakan, “coba  lihatlah, sekali lagi lihatlah, wahai kerinduan”. Syahdan pupuslah usia ular itu sesudah ia puas manatap hadirat wajah Rasulullah SAW.

Sesaat sesudah itu, beliau meminta sosok jin yang kebetulan berada di situ untuk menyelenggarakan jenazah ular yang pasti akan menghuni surga itu, Sejurus kemudian, maka Rasulullah SAW Menengadahkan tangannya Yang Mulia ke atas, memohon “Yaa Rabb, segala apa yang Engkau limpahkan padaku mohon limpahkanlah kedada Abu Bakr ini,” seraya memegang dada sang sahabat tercinta.

Setelah kejadian itu, beliau berdua diterpa oleh jejalan hadirnya para-arwah dari seluruh pecinta Rasulullah SAW yang ikut memadati Gua Tsur, baik dari yang belum terlahir sebagai jelma-manusia, yang telah terbungkus raga, maupun yang telah dahulu kala, dan kemudian bersama-sama melingkar, dan melantunkan ‘kalimah thayyibah’ serta meresapi cinta, dan rindu kepada Rasulullah di dalam suatu dzikr, yang shighat (formulanya) kemudian disebut sebagai Khatm Khawajagan ini (circle dari orang-orang yang bersungguh melingkari, dan mencintai-mematuhi-berhidmat kepada Rasululloh SAW yang ditugasi Allah Ta’ala untuk merahmati kehidupan ini) dengan konduksi oleh Mawlana Syaikh Abdul Khaliq Al-Ghujduwani, yang ketika itu belum lagi terlahirkan kedunia fana ini.

Peristiwa ini, tentu saja semakin menghunjamkan kecintaan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq kepada Rasulullah SAW dengan semakin mantap, dan makin dalam. Semoga riak-gelombang keberuntungan seperti ini akan melimpah kepada kita semua, yang dengan taufiq-inayah Allah, Berkah Rasulullah, dan madad (bantuan-karamah-irsyad) para Auliyaa, dan Masyayikh kita mengamalkan dzikr ini.[]

Tarekat Naqsyabandiah (XV): Sejarah Khatam Khawajakan