Dalam setiap pertemuan formal, sering terdengar pembawa acara, termasuk para pejabat, mengucapkan kata berbahagia, misalnya Selamat malam dan selamat datang di tempat yang berbahagia ini. umumnya kata berbahagia dimunculkan pada bagian awal pembicaraan ketika pembicara menyapa hadirin.
Selain contoh itu, kata berbahagia juga sering dipakai dalam kalimat Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak hadirin untuk…
Meski pemakaiannya sudah meudarah gapah, kata berbahagia yang dipakai dalam dua kalimat itu tidak benar. Alasannya, berbahagia bukanlah kata sifat. Jika kata berbahagia pada kedua kalimat di atas diisi oleh kata sifat, seperti aman, bersih, atau indah, tentu saja kalimatnya benar. Demikian juga jika kata sifat langka atau baik menggantikan kata berbahagia pada kedua kalimat di atas, kalimatnya juga benar.
Berbahagia merupakan kata kerja yang berasal dari kata sifat bahagia, lalu diberi awalan ber- sehingga menjadi kata kerja yang berarti merasa bahagia. Bila dikaitkan kembali dengan kalimat di atas, tentu tidak tepat bila dikatakan bahwa tempat merasa bahagia karena tempat bukan benda hidup, demikian pula dengan kesempatan yang berbahagia.
Yang dapat merasakan bahagia adalah orang, bukan tempat atau kesempatan. Oleh manusia, tempat dapat dijadikan aman, bersih dan indah sehingga dapat membahagiakan orang atau menjadi orang bahagia atau senang. Kesempatan yang langka, misalnya, dapat membahagiakan orang yang memperolehnya.
Jadi, kalimat Selamat malam dan selamat datang di tempat yang berbahagia ini; dan Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak hadirin untuk… dapat dikatakan sebagai kalimat yang salah diksinya.
Agar kedua kalimat itu menjadi logis dan mantap, kata berbahagia yang dipakai di situ harus diganti menjadi membahagiakan seperti pada contoh ini: (1) Selamat malam dan selamat datang di tempat yang membahagiakan ini, (2) Pada kesempatan yang membahagiakan ini, kami mengajak hadirin untuk…[]
Sumber: Komposisi Bahasa Indonesia, Lamuddin Finoza, 2009

